ABSTRAKSI
Pengolahan Limbah Bunga Kamboja Merah (Plumeria rubra) sebagai Aromaterapi  yang Ramah Lingkungan
Kadek Haripriya Dewi, Ni Kadek Adnya Kusuma Sari, Kadek Astri Candra Dewi, Vira Niyatasya Shiva Duarsa, dan Putu Karisma Ersi Ersinta
Pulau Bali terkenal akan keindahannya karena memiliki beragam flora yang indah. Salah satunya yaitu kamboja atau jepun. Pohon kamboja banyak terdapat di pulau Bali, begitu juga di lingkungan SMP Negeri 3 dan SMP Negeri 4 Denpasar khususnya pohon kamboja merah. Bunga kamboja biasanya banyak digunakan dalam kegiatan yadnya (persembahyangan) selain  itu, bunga kamboja juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa, mengobati disentri, batuk, dan luka ringan. Tapi, limbah dari bunga kamboja tersebut tidak dihiraukan masyarakat sehingga dapat membuat lingkungan tidak bersih. Oleh karena itu, penulis ingin memanfaatkan limbah bunga kamboja sebagai aromaterapi yang ramah lingkungan yang juga bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi belajar siswa.
Penelitian ini menggunakan air 30 ml dan limbah bunga kamboja yang sudah kering sebanyak 30 gr. Dengan metode penyulingan dengan air (water destilation) yang menghasilkan aromaterapi sebanyak 10 ml dengan waktu penyulingan yakni 20 menit. Penelitian ini dilakukan di ruang laboratorium di SMP Negeri 3 Denpasar pada tanggal 6 September 2013 dan uji coba alat dilakukan di laboratorium SMP Negeri 3 Denpasar pada tanggal 22 Agustus 2013. Dengan menggunakan metode observasi, metode kajian pustaka, dan metode eksperimen.
Hasil penelitian menunjukkan  bahwa limbah bunga kamboja merah yang kering dapat dijadikan bahan dasar pembuatan aromaterapi dan sebagian besar dapat memberi pengaruh menenangkan saat kegiatan belajar berlangsung.

Kata kunci : limbah bunga kamboja merah, aromaterapi, ramah lingkungan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pulau Bali terletak di kawasan garis khatulistiwa, hal ini menyebabkan Bali beriklim tropis sehingga memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi, maka dari itu Bali memiliki keragaman flora yang cukup banyak. Bicara mengenai flora di Bali, tidak terlepas dari keidentikkan Bali dengan bunga kamboja atau jepun karena masyarakat Bali biasanya menggunakannya sebagai sarana persembahyangan. Meskipun berasal dari Amerika Tengah, kamboja merupakan pohon yang sangat populer di Pulau Bali karena ditanam di hampir setiap rumah, sekolah, pura, serta sudut kampung. Sama halnya di lingkungan SMPN 3 dan SMPN 4 Denpasar juga terdapat banyak pohon kamboja khususnya kamboja merah yang menghiasi lingkungan sekolah. Hal ini dikarenakan, tanaman kamboja dapat tumbuh dengan baik pada daerah kering beriklim hangat dan mudah dibudidayakan di berbagai daerah (Anonim, 2013). 
Bunga kamboja dianggap sebagai bunga yang istimewa karena memiliki fungsi penting dalam kebudayaan Bali. Selain sebagai sarana yadnya (persembahyangan), bunga kamboja memiliki banyak sekali manfaat, antara lain sebagai bahan baku pembuatan dupa, mengobati penyakit seperti demam, batuk, luka, disentri, dan sebagai bahan pembuat teh herbal (Juwita, 2011). Selain bunganya, bagian tumbuhan kamboja yang lain juga memiliki fungsi sebagai tanaman perindang yang dapat menjadi WWG (waste water garden) yaitu tanaman yang dapat menyerap air limbah dan memfilterasikan air limbah (Narayana, 2013). Bunga kamboja juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jika dijual, bunga kamboja dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar yaitu ± 100.000/kg untuk bunga yang kering dan ± 15.000/kg untuk bunga yang basah (Anonim, 2013).
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, di lingkungan SMPN 3 dan SMPN 4 Denpasar banyak sekali bunga kamboja merah yang berguguran sehingga mengotori lingkungan sekolah. Biasanya petugas kebersihan akan membersihkan bunga kamboja merah kemudian menjemur dan menjualnya. Melihat fenomena tersebut, peneliti bermaksud untuk memanfaatkan limbah bunga kamboja merah menjadi suatu produk yang berguna bagi masyarakat. Ternyata, semua jenis bunga kamboja memiliki kandungan minyak atsiri (Vionita, 2010). Minyak atsiri atau minyak essensial adalah zat yang mewakili bau tanaman asalnya sehingga menjadi bahan utama dalam pembuatan wangi-wangian contohnya parfum dan aromaterapi (Hasib, 2011). Aromaterapi adalah salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap yang bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati atau kesehatan seseorang, yang sering digabungkan dengan praktik pengobatan alternatif dan kepercayaan kebatinan (Anonim, 2013). Ada berbagai jenis aromaterapi antara lain minyak essensial, dupa, lilin, minyak pijat, sabun, dan garam. Aromaterapi juga memiliki berbagai jenis aroma. Masing-masing aroma dalam aromaterapi tersebut memiliki berbagai fungsi yang tidak hanya berguna untuk mengharumkan ruangan atau wewangian namun juga memiliki berbagai fungsi yang luar biasa bagi kesehatan. Aromaterapi dapat memengaruhi suasana hati, mengurangi kelelahan, mengurangi kecemasan, dan merangsang relaksasi. Ketika dihirup, aromaterapi dapat bekerja pada otak dan sistem saraf melalui stimulasi dari saraf penciuman (Amazine, tt).
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk mencoba memanfaatkan limbah bunga kamboja merah yang terdapat dari lingkungan SMPN 3 dan SMPN 4 Denpasar menjadi sebuah produk aromaterapi. Pada umumnya, aromaterapi yang dijual dipasaran berbentuk lilin atau minyak aromaterapi yang dipanaskan di atas tungku, kadang kurang bersahabat bagi penderita penyakit saluran pernafasan. Aromaterapi yang berbentuk lilin mengandung parafin yang disinyalir bisa menyebabkan polusi udara lewat asap yang dihasilkan apalagi pemakaian yang terus menerus akan membahayakan kesehatan manusia (Anonim, 2009). Melihat fenomena tersebut, penulis mencoba membuat aromaterapi dalam bentuk minyak yang disemprotkan di kelas-kelas untuk meningkatkan konsentrasi dan mengurangi kelelahan siswa saat belajar. Metode yang digunakan dalam karya tulis ini adalah metode penyulingan atau destilasi untuk mengambil kandungan minyak atsiri dari bunga kamboja.
Gagasan kreatif dari karya tulis ini adalah melalui terolahnya limbah bunga kamboja merah di lingkungan sekolah, selain dapat menciptakan lingkungan yang bersih, produk yang dihasilkan juga bernilai ekonomis, dan bermanfaat sebagai aromaterapi yang bisa meningkatkan konsentrasi saat jam pelajaran berlangsung.
Ruang lingkup dalam karya tulis ini hanya sebatas pengolahan limbah kamboja merah menjadi aromaterapi dalam bentuk cair. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul untuk karya tulis iniPengolahan Limbah Bunga Kamboja Merah (Plumeria rubra) sebagai Aromaterapi yang Ramah Lingkungan”.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan rumusan masalahnya adalah “Limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) jarang dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan aromaterapi”. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka muncul beberapa pertanyaan penelitian, yaitu sebagai berikut.
1.2.1    Dapatkah limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) dijadikan sebagai bahan baku pembuatan aromaterapi?
1.2.2    Seberapa besar pengaruh pemberian aromaterapi limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) terhadap kegiatan pembelajaran siswa?


1.3    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini meliputi:
1.3.1        Untuk mengetahui pemanfaatan limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan aromaterapi.
1.3.2        Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian aromaterapi limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) terhadap kegiatan pembelajaran siswa.

1.4    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini meliputi:
1.4.1        Bagi Siswa
Menambah wawasan mengenai bunga kamboja, pemanfaatannya sebagai bahan baku pembuatan aromaterapi, dan memberikan pengaruh menenangkan yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
1.4.2    Bagi Sekolah
            SMPN 3 dan 4 Denpasar dapat memanfaatkan limbah bunga kamboja merah menjadi aromaterapi.
1.4.3    Bagi Lingkungan
            Mengurangi sampah yang ada di SMPN 3 dan SMPN 4 Denpasar sehingga lingkungan sekolah tampak lebih bersih dan asri.
1.4.4    Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat memanfaatkan limbah kamboja merah sebagai aromaterapi yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan mengolah limbah bunga kamboja merah sehingga memiliki nilai ekonomis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Aromaterapi
Aromaterapi ialah istilah generik bagi salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap, dikenal sebagai minyak essensial, dan senyawa aromatik lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati atau kesehatan seseorang, yang sering digabungkan dengan praktik pengobatan alternatif dan kepercayaan kebatinan. Aromaterapi sudah ada sejak 6000 tahun yang lalu. Kata "aromaterapi" digunakan oleh kimiawan Perancis Rene-Maurice Gattefosse pada tahun 1920-an, yang mencurahkan hidupnya untuk meneliti sifat penyembuhan minyak essensial setelah musibah laboratorium parfumnya (Anonim, 2013).
2.1.1        Bentuk-bentuk Aromaterapi
1)            Essential Oil Aroma Therapy/Minyak Essensial Aromaterapi. Aromaterapi jenis ini berbentuk cairan atau minyak. Penggunaannya bermacam-macam, dipanaskan pada tungku (tungku listrik aromaterapi atau tungku lilin aromaterapi), dioleskan pada kain, dioleskan pada bola lampu, dan dioleskan pada saluran udara.
2)            Stick Incense Aromatherapy/Dupa Aromaterapi. Dupa tidak hanya digunakan untuk kegiataan keagamaan tertentu. Dewasa ini, bentuk dupa pun menjadi salah satu bentuk aromaterapi. Hanya saja, karena jenis aromaterapi ini berasap, aromaterapi jenis dupa lebih tepat digunakan untuk ruangan yang besar atau di ruangan terbuka. Jenis dupa aromaterapi sendiri saat ini ada 3 jenis, yaitu berupa dupa aromaterapi panjang, dupa aromaterapi pendek, dan dupa aromaterapi berbentuk kerucut.
3)            Candle Aroma Therapy/Lilin Aromaterapi. Berkaitan dengan aromaterapi ada 2 jenis lilin yang digunakan, lilin untuk pemanas tungku dan lilin aromaterapi. Lilin yang digunakan untuk memanaskan tungku aromaterapi tidak memiliki wangi aromaterapi karena fungsinya adalah memanaskan tungku yang berisi aromaterapi essential oil sedangkan lilin aromaterapi adalah lilin yang jika dibakar akan mengeluarkan wangi aromaterapi.
4)            Message Oil Aroma Therapy/Minyak Pijat Aromaterapi. Wanginya sama saja seperti aromaterapi bentuk lainnya hanya saja bentuk dan cara penggunaannya yang berbeda.
5)            Bath Salt Aromatherapy/Garam Aromaterapi. Mandi menggunakan air garam hangat dipercaya mampu mengeluarkan toksin atau racun yang ada di dalam tubuh. Dengan garam aromaterapi ini suasana mandi air garam akan lebih menyenangkan. Untuk menggunakan garam aromaterapi ini, sebaiknya mandi dengan cara berendam atau bisa juga digunakan untuk merendam bagian tubuh tertentu seperti telapak kaki untuk mengurangi rasa lelah.
6)            Soap Aroma Therapy/Sabun Aromaterapi. Bentuk sabun dengan aromaterapi, yang beredar saat ini berupa sabun padat namun dengan berbagai wangi aromaterapi, tidak hanya wangi saja namun berbagai kandungan dan ekstrak dari tumbuh-tumbuhan dibenamkan di dalam sabun ini sehingga sabun ini juga baik untuk kesehatan tubuh, seperti menghaluskan kulit, menjauhkan serangga, dan lainnya.
(Sumber: Anonim, 2013)




2.1.2    Jenis-Jenis Aromaterapi
Jenis
Sumber Tanaman
Manfaat
Aromaterapi Basil
Basil

Aromaterapi Cedarwood


Aromaterapi Chammomile Roman


Aromaterapi Clove


Aromaterapi Clube


Aromaterapi Cypress


Aromaterapi Geranium


Aromaterapi Grapefruit
Anggur

Aromaterapi Lavender
Lavender

Aromaterapi Lemon
Lemon

Aromaterapi Jasmine
Melati

Aromaterapi Juniper


Aromaterapi Orange
Jeruk

Aromaterapi Peppermint


Aromaterapi Rosemary


Aromaterapi Sandalwood
San

Aromaterapi Tea Tree
Teh

Aromaterapi Thyme


Aromaterapi Ylang-Ylang atau Kenanga
Kenang


(Sumber: Anonim, 2013)


2.1.3    Manfaat Aromaterapi
Manfaat aromaterapi adalah sebagai berikut.
1.    Mempercepat peremajaan kulit melalui minyak esensial yang meresap ke dalam kulit sehingga meningkatkan aliran darah.
2.    Mencegah timbulnya berbagai penyakit karena bersifat antibakteri.
3.    Menetralkan ketegangan dan mengurangi stres.
4.    Memberi kenyamanan (relaxing) melalui aroma minyak essensial yang terhirup.
5.    Menormalisasi metabolisme dan meningkatkan vitalitas.
6.    Membantu mengatur keseimbangan tubuh dan menstimulasi proses terapi.
(Sumber: Anonim, 2012)
2.2  Tanaman Kamboja Merah (Plumeria rubra)
Kamboja merah atau jepun merah merupakan sekelompok tumbuhan dalam marga Plumeria. Bentuknya berupa pohon kecil dengan tinggi kira-kira 6 meter. Pohon kamboja merah memiliki daun yang jarang namun tebal. Pada daun dan batangnya terdapat getah putih yang lengket dan kental. Bunganya memiliki harum khas yang lembut dan menenangkan. Bunga kamboja merah biasanya memiliki lima helai mahkota bunga. Namun, tak jarang ditemukan bunga kamboja merah yang memiliki enam sampai 10 mahkota bunga.
Semua jenis pohon kamboja berasal dari Amerika Tengah. Walaupun pohon kamboja berasal dari negara Amerika Tengah, pohon kamboja dapat ditemukan hampir di setiap rumah warga, sekolah, pura, perkantoran, dan pertokoan yang ada di pulau Bali. Dalam bahasa Bali, masyarakat setempat lebih biasa menyebutnya dengan nama pohon Jepun. Pada tradisi masyarakat, bunga kamboja digunakan untuk menghiasi sesajen dan sarana sembahyang saat upacara adat. Banyaknya pohon kamboja yang ada di Bali menjadikan pulau ini makin terlihat menawan akan keindahan bunga kamboja ini.
(Sumber?????)

2.2.1    Taksonomi Tanaman Kamboja Merah (Plumeria rubra)

Kingdom
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
 Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
Asteridae
Ordo
Gentianales
Famili
Genus
Spesies
Plumeria rubra

(Sumber: Anonim, tt)
2.2.2    Manfaat Bunga Kamboja Merah
Pohon kamboja merah lebih dikenal sebagai tanaman penghias, namun pohon kamboja merah memiliki banyak sekali manfaat. Batang dan daun pohon kamboja merah memiliki getah putih yang mengandung damar, kautscuk, senyawa sejenis karet, senyawa teriterpenoid, amytin, dan lupeol yang dapat digunakan untuk mengobati bengkak, kutil, kaki pecah-pecah, menghilangkan rasa gatal pada sela-sela kaki, obat sakit gigi, dan obat luka. Namun, getah ini mengandung banyak zat-zat yang berbahaya yang apabila digunakan dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan luka parah pada bagian yang digunakan getah tersebut. Selain itu, getah yang bersifat racun ini dapat membunuh kuman-kuman sehingga dapat digunakan untuk obat antibiotik. Bunga kamboja merah sendiri tak kalah bermanfaat. Bunga kamboja merah yang masih segar dapat dijadikan lalapan yang dapat memberikan efek tenang dan aromatik sedangkan, bunga kamboja merah yang kering dapat digunakan sebagai teh. Teh bunga kamboja merah ini sangat bermanfaat, seperti  menyembuhkan demam, menyembuhkan disentri, meredakan batuk, memperlancar keluarnya air seni, mengatasi bibir pecah-pecah, dan sebagai aromaterapi. Aromaterapi yang dihasilkan oleh bunga kamboja merah memiliki aroma yang oriental dan lembut yang dapat membuat pikiran menjadi tenang dengan suasana yang ditimbulkan oleh aroma dari bunga kamboja merah tersebut. Maka, tak jarang bunga kamboja merah serta aromaterapi dari bunga kamboja merah banyak ditemukan di salon kecantikan dan spa sebagai penambah dekorasi dan aroma agar salon menjadi tampak nyaman dan terkesan eksotik.
(Sumber:Andi, 2013)

BAB III
  1. METODE PENULISAN
    3.1 Waktu dan Tempat Pengumpulan Data
    1)    Uji coba alat di Laboratorium IPA SMPN 3 Denpasar pada hari Kamis, 22 Agustus  2013.
    2)    Eksperimen lanjutan di Laboratorium IPA SMPN 3 Denpasar pada hari Jumat, 6 September 2013.
                                       
    3.2  Metode Pengumpulan Data
    3.2.1    Metode Observasi
    Metode observasi dilakukan di SMPN 3 Denpasar dan SMPN 4 Denpasar untuk mengetahui jumlah dan jenis pohon kamboja yang ada di sekolah.
    3.2.2    Metode Kajian Pustaka
    Metode ini dilakukan dengan mengambil data relevan dari internet mengenai aromaterapi, bunga kamboja merah, dan teknik destilasi.
    3.2.3    Metode Eksperimen
    Metode yang dilakukan adalah penyulingan dengan air (water distillation) untuk mendapatkan ekstrak dari bunga kamboja merah.

    3.3  Teknik Pengumpulan Data
    Sumber data dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari hasil studi literatur yang bersumber dari buku dan internet.


    3.4  Metode Pengolahan Data
    Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif yaitu, prosedur penelitian berdasarkan data deskriptif berupa lisan atau kata tertulis dari seseorang subjek yang telah diamati dan memiliki karakteristik bahwa data yang diberikan merupakan data asli yang tidak diubah serta menggunakan cara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (Anonim, 2013).

    3.5  Alat dan Bahan
    3.5.1    Alat
    a)  Dasar Statif (2 buah)
    b)  Batang Statif pendek (1 buah)
    c)  Batang Statif pendek (2 buah)                       
    d)  Boss Head (2 buah)
    e)  Penjepit Universal (2 buah)
    f)   Labu Erlenmeyer (1 buah)
    g)  Silinder Ukur 100 ml (1 buah)
    h)  Penghubung Selang (1 buah)
    i)   Selang Silikon (1 buah)
    j)   Pembakar Spiritus (1 buah)
    k)   Sumbat karet 1 lubang (1 buah)
    l)   Gunting
    m) Alu dan Lumpang
    n)  Neraca Ohauss nst 0,1 gram
     3.5.2   Bahan
    a)  Limbah bunga kamboja merah (30 gram)
    b)  Air 30 ml

    3.6  Prosedur Penelitian
    1.         Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
    2.         Mencuci bersih limbah bunga kamboja merah.
    3.         Mengeringkan limbah bunga kamboja merah dengan cara  meletakkannya
           di atas tumpukan tisu kering.
    4.    Memotong limbah bunga kamboja merah dengan menggunakan gunting.
    5.         Melumat potongan limbah bunga kamboja merah dengan alu dan lumpang.
    6.         Menimbang massa limbah bunga kamboja merah dengan menggunakan neraca  ohauss.
    7.         Memasukkan hasil lumatan limbah bunga kamboja merah ke dalam labu erlenmeyer yang telah diisi air sebanyak 30 ml.
    8.         Merangkai alat dan bahan seperti pada gambar berikut.











    Gambar 3.1 Rangkaian
    Alat dan Bahan
     
     



    9.         Menyalakan pembakar spiritus.
    10.     Menghitung waktu yang diperlukan untuk menghasilkan aromaterapi dari limbah-limbah bunga kamboja merah sebanyak 30 gram dengan air 30 ml.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil Penelitian
Berdasarkan eksperimen sederhana yang dilakukan, limbah bunga kamboja dapat dijadikan aromaterapi karena:
No.
Sampel
Keterangan
1
Sampel I
Merasa tenang
2
Sampel II
Merasa tenang
3
Sampel III
Merasa kurang tenang
4
Sampel IV
Merasa kurang tenang
5
Sampel V
Merasa tenang
6
Sampel VI
Merasa tidak tenang
7
Sampel VII
Merasa tidak tenang
8
Sampel VIII
Merasa tenang
9
Sampel IX
Merasa tenang
10
Sampel X
Merasa tenang

Diketahui pada sampel pertama, aromaterapi yang diberikan dapat menenangkan, pada sampel kedua, aromaterapi yang diberikan dapat menenangkan, pada sampel ketiga, aromaterapi yang diberikan kurang menenangkan, pada sampel keempat, aromaterapi yang diberikan kurang menenangkan, pada sampel kelima, aromaterapi yang diberikan dapat menenangkan, pada sampel keenam, aromaterapi yang diberikan tidak dapat menenangkan, pada sampel ketujuh, aromaterapi yang diberikan tidak dapat menenangkan, pada sampel kedelapan, aromaterapi yang diberikan dapat menenangkan, pada sampel kesembilan, aromaterapi yang diberikan dapat menenangkan, begitu pun sampel kesepuluh. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa aromaterapi dari limbah bunga jepun kering dapat memberikan pengaruh yang positif kepada sampel penelitian di mana dari 10 sampel sebanyak 6 sampel merasa tenang ketika menghirup aromaterapi yang terbuat dari limbah bunga kamboja merah yang kering.

4.2 Pembahasan
Limbah bunga kamboja merah yang kering dapat dijadikan aromaterapi terapi karena mampu mengeluarkan aroma yang bisa memberikan ketenangan kepada sampel yang menghirupnya. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dari 10 sampel yang menghirup aromaterapi dari limbah bunga jepun kering, sebanyak 6 sampel mengatakan bahwa mereka merasa tenang ketika menghirup aromaterapi tersebut dan sebanyak 4 sampel menyatakan bahwa mereka kurang tenang dan tidak tenang ketika menghirup aromaterapi yang terbuat dari limbah bunga kamboja merah yang kering. Aromaterapi memiliki manfaat untuk menurunkan tingkat stres dan dapat menetralkan ketegangan maka dari itu limbah bunga kamboja merah yang biasanya dibuang begitu saja hendaknya dapat dioptimalkan sebagai aromaterapi di lingkungan sekolah.
Aromaterapi dari limbah bunga kamboja merah yang dapat memberikan efek yang menenangkan selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar siswa ketika belajar di kelas. Menurut Dr Amarullah H Siregar (2011), aromaterapi dari bunga kamboja dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa dalam meningkatkan konsentrasi belajar dan wewangian yang beraroma kamboja juga dapat mempertajam ingatan dan kemampuan untuk berkonsentrasi. Keberadaan limbah bunga kamboja merah yang jumlahnya cukup banyak di lingkungan sekolah SMPN 3 dan SMPN 4 Denpasar menjadi sebuah inovasi baru yakni memanfaatkan limbah tersebut menjadi aromaterapi yang selanjutnya dapat membantu siswa dalam kegiatan belajar di kelas.
Pemanfaatan limbah bunga kamboja merah sebagai aromaterapi yang ramah lingkungan dapat memberikan banyak manfaat kepada siswa dan juga kepada lingkungan sekitar. Manfaat yang dapat diberikan kepada siswa yakni dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengaruh yang menenangkan ketika menghirup aromaterapi yang selanjutnya diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi serta konsentrasi belajar siswa. Manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan adalah aromaterapi dari limbah bunga kamboja merah merupakan aromaterapi yang ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alami tanpa adanya campuran bahan kimia yang mengganggu kesehatan, limbah kamboja merah dapat dimanfaatkan secara tepat guna sehingga sampah dari limbah bunga tidak mengganggu pemandangan di halaman sekolah.
Aromaterapi yang terbuat dari limbah bunga kamboja merah merupakan inovasi terbaru karena selama ini masyarakat hanya memanfaatkan kamboja yang putih sebagai aromaterapi. Aromaterapi yang dihasilkan dari limbah bunga kamboja merah memiliki kualitas aroma yang sama dengan aromaterapi yang terbuat dari kamboja putih (Sumber:??). Aromaterapi kamboja memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari situs-situs yang menjual aromaterapi di mana aromaterapi bunga kamboja dengan kemasan 25 ml dijual dengan harga Rp 145.000,00. Ini berarti limbah bunga kamboja merah sebagai aromaterapi juga memiliki potensi harga yang sama dengan kamboja putih sehingga nantinya aromaterapi ini dapat dijadikan peluang usaha yang memberikan keuntungan yang cukup besar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut.
5.1.1        Limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) dapat dijadikan sebagai aromaterapi.
5.1.2        Pengaruh pemberian aromaterapi sebagian besar dapat menenangkan saat kegiatan pembelajaran.

5.2    Saran
Adapun saran yang dapat direkomendasikan sebagai adalah sebagai berikut.
5.2.1        Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui konsentrasi yang tepat untuk pembuatan aromaterapi berbahan dasar bunga kamboja merah (Plumeria rubra).
5.2.2        Masyarakat dapat memanfaatkan limbah bunga kamboja merah (Plumeria rubra) sebagai aromaterapi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ATASI PERMASALAHAN SAMPAH DI PEDESAAN BALI DENGAN PROGRAM KOPERASI SAMPAH BERKONSEP BANK SAMPAH