PEMANFAATAN
EKSTRAK LIMBAH KULIT JERUK BALI
(Citrus grandis)
SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF
PEMBASMI NYAMUK

OLEH :
KADEK HARIPRIYA DEWI
SEKOLAH
MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 5 DENPASAR
JALAN SANITASI NOMOR 2 DENPASAR
BALI
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Judul
Pemanfaatan Ekstrak Limbah Kulit
Jeruk Bali
(Citrus grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk
(Citrus grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk
Oleh
Kadek
Haripriya Dewi
Karya
Tulis Ini Disampaikan Dalam Rangka
Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah yang Diselenggarakan Oleh
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar
Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah yang Diselenggarakan Oleh
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar
Denpasar,
4 September 2015
Mengetahui
/ Mengesahkan
Kepala
SMA Negeri 5 Denpasar
(Drs.
I Made Sudha Mpd.H)
Nip.
196012011987031013
KATA PENGANTAR
Berkat
berkah dan rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan dengan dukungan
dari guru pembimbing, orang tua dan teman- teman, maka terciptalah sebuah karya tulis
ilmiah yang berjudul
“Pemanfaatan
Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus
grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk”
Penulis menyadari karya tulis ini tidak sepenuhnya sempurna
karena pengetahuan yang penulis miliki masih terbatas. Namun rasa bangga masih penulis rasakan karena telah berhasil menyelesaikan Karya
tulis ilmiah ini dengan kemampuan yang penulis miliki.
Di
kesempatan yang baik ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah
membantu penulis
dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini dalam waktu yang sudah di tetapkan dan
ketentuan yang sudah berlaku. Disamping itu semua, penulis mengharapkan karya tulis ilmiah yang telah dibuat ini diberikan kritik dan saran yang sehat sehingga
memotivasi penulis
dalam membuat karya
tulis ilmiah.
Demikian
sepatah kata yang dapat penulis sampaikan, dan jika ada kesalahan yang
tersirat maupun tersurat
mohon dimaafkan. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terimakasih.
Denpasar,
4 September 2015
Penulis
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS SISWA
Judul Karya : Pemanfaatan Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk
Nama Peserta : Kadek Haripriya Dewi
Asal Sekolah : SMA Negeri 5 Denpasar
Dengan ini penulis menyatakan bahwa memang benar karya tulis dengan judul
yang tersebut diatas merupakan karya orisinal penulis
dan belum pernah dipublikasikan atau dilombakan di luar kegiatan Lomba Karya Ilmiah
Tingkat SMP Se-Bali yang
diselenggarakan oleh Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar serta tidak mengandung unsur Plagiatisme didalamnya.
Demikian
pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya, dan apabila
terbukti terdapat pelanggaran di dalamnya, maka penulis siap untuk didiskualifikasi dari kompetisi ini sebagai bentuk tanggung
jawab.
Denpasar, 4 September 2014
DAFTAR ISI
JUDUL…………………………………………………………………………………………i
PENGESAHAN…………………………………………………………………………….....ii
KATA
PENGANTAR …..........…………………………………………............................ iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………...........................……...…. iv
ABSTRAKSI ..……………………………………………………………………………… vi
BAB
I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1
Latar Belakang
............................................................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah
........................................................................................................
2
1.3
Tujuan
Penelitian .........................................................................................................
2
1.4
Manfaat
Penelitian .......................................................................................................
2
1.5
Batasan Masalah
..........................................................................................................
3
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................
4
2.1 Kulit jeruk Bali
...................................................................................................................
4
2.2 Asam Limonen ...................................................................................................................
4
2.3 Teknik destilasi
...................................................................................................................
4
2.4 Nyamuk................................................................................................................................5
2.5 Obat pembasmi
nyamuk.......................................................................................................6
BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………........……............... 9
3.1 Lokasi
Penelitian ……………………………………….........…………........................... 9
3.2 Populasi dan sampel ………………………………….................…………...................... 9
3.3 Variabel penelitian
…………………………...…………..................……........................ 9
3.4 Data dan sumber data
.........................................................................................................
9
3.4 Alat dan
Bahan ………………………………………………..............……..................... 9
3.4.1 Bahan ………………………………………………….........……................................ 10
3.4.2 Alat ……………………………………………….............…....................................... 10
3.5 Cara Kerja
…………………………………………………............…............................. 10
3.6 Metode pengumpulan data ………………………………............…................................11
3.8 Metode analisa
data...........................................................................................................
11
BAB
IV PEMBAHASAN ......................................................................................................
12
4.1 Hasil Observasi
.................................................................................................................
12
4.2 Hasil Eksperimen
.............................................................................................................
12
4.3 Pengaruh kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk.......................................................
13
4.4 Perbedaan perlakuan 0,1,2
...............................................................................................
13
BAB
V PENUTUP ….............................................................................................................
14
5.1 Simpulan ………………………………………………………....................................... 14
5.2 Kritik dan
Saran ………………………………………………….................................... 14
DAFTAR
PUSTAKA …………………………………………………………..................... 15
LAMPIRAN
Daftar Riwayat Hidup Penulis
ABSTRAKSI
Pemanfaatan
Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus
grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk
Kadek Haripriya
Dewi
Nyamuk
merupakan serangga yang tidak disukai masyarakat karena dianggap mengganggu dan
menimbulkan banyak masalah kesehatan. Obat pembasmi nyamuk yang banyak dijual
di pasaran menjadi pilihan masyarakat untuk membasmi nyamuk. Padahal, kandungan
racun pada obat pembasmi nyamuk seperti Propoxur dan Dichlorvos dapat
membahayakan kesehatan masyarakat seperti menimbulkan sesak nafas, mual, dan
batuk. Sebenarnya masyarakat dapat memanfaatkan limbah kulit jeruk Bali untuk
membasmi nyamuk. Selain ramah lingkungan, kulit jeruk juga mudah diolah.
Penelitian ini
menggunakan tiga perlakuan yakni, P-0, P-1, dan P-2 dengan menggunakan metode
destilasi. Pengamatan dilakukan selama 30-45
menit untuk mengetahui pengaruh ekstrak limbah kulit jeruk Bali terhadap
nyamuk dan pengaruh perbedaan perlakuan ekstrak limbah kulit jeruk Bali.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium SMPN 4 Denpasar pada tanggal 19
Februari 2014 – 20 Februari 2014.
Hasil penelitian
menunjukkan ekstrak limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk.
Nyamuk lebih cepat mati pada perlakuan 1 dalam waktu 3 menit sehingga dapat
disimpulkan penggunaan perlakuan 1 lebih efektif dalam membasmi nyamuk
Kata
kunci : Nyamuk, Ekstrak Limbah Jeruk Bali, Pembasmi Nyamuk, Obat Pembasmi
Nyamuk Sintetis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Keberadaan nyamuk di
lingkungan masyarakat sangatlah mengganggu, karena prilaku nyamuk yang menggigit dan juga membawa bibit
penyakit, seperti : demam berdarah, malaria, chikungunya, dan lainnya. Terutama
pada musim penghujan, nyamuk berkembang biak dengan sangat pesat. Berbagai obat
pembasmi nyamuk atau obat anti nyamuk
dengan bermacam merk sudah banyak tersedia di pasaran. Baik dalam bentuk
semprot, batang, lotion, maupun mat. Janji manis iklan obat nyamuk membuat masyarakat
memilih untuk menggunakan obat nyamuk yang dijual bebas di pasaran. Penggunaan
bahan kimia dalam membasmi nyamuk tidak tentu baik. Mengingat bahwa prinsip
dari obat pembasmi nyamuk adalah racun, dan racun bukanlah bahan yang aman. Hampir
semua pembasmi nyamuk mengandung zat aktif propoxur,
DDVP atau dichlorvos (Handoko, 2013). Penggunaan
obat pembasmi nyamuk juga tidak selamanya terbilang ampuh, beberapa bahkan
hanya mampu membasmi nyamuk demam berdarah, bukan nyamuk yang biasanya
mengganggu pada malam hari. Bahkan pemakaian dalam jangka panjang membuat nyamuk
menjadi resisten terhadap obat pembasmi nyamuk. Kemudian,
penggunaan lotion reppelent di
kalangan masyaraat juga berbahaya karena mengandung zat DEET yang dapat merusak
kulit bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Walaupun dikatakan bahwa
mengandung aloe vera, zat aktifnya tetaplah DEET yang berbahaya bagi kulit.
Mengingat bahaya
penggunaan obat anti nyamuk ataupun obat pembasmi nyamuk maka perlu adanya
alternatif yang tidak memberikan dampak negatif dalam penggunaannya. Alam
sebenarnya sudah menyediakan bahan yang dapat digunakan untuk membasmi nyamuk.
Salah satunya yaitu limbah kulit jeruk Bali. Kulit jeruk pada umumnya
mengandung asam limonen yang tidak disukai bangsa serangga terutama nyamuk. Buah
jeruk bali biasanya digunakan sebagai pencuci mulut dan juga sesajen adat di
Bali. Selain itu, jeruk bali bisa digunakan untuk mengatasi pilek, flu, keram,
dan lainnya. Jeruk Bali memiliki rasa yang manis sehingga banyak digemari.
Namun, selama ini pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali masih terbilang kurang,
dan biasanya masyarakat hanya membuang kulit jeruk Bali tanpa memanfaatkannya
menjadi benda yang berguna. Asam limonen pada kulit jeruk Bali dapat dikatakan
lebih banyak dibanding dengan kulit jeruk lainnya, karena kulit jeruk Bali
lebih tebal dan aromanya lebih pekat. Asam iniliah yang tidak disukai oleh
nyamuk sehingga penulis manfaatkan
sebagai bahan alami pembasmi nyamuk.
Maka dari itu, berdasarkan
permasalahan diatas penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dengan judul “Pemanfaatan
Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus
grandis) Sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk”.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimanakah pemanfaatan ekstrak limbah kulit jeruk Bali dalam
membasmi nyamuk ?
2. Bagaimanakah
perbedaan perlakuan P-0, P-1, dan P-2 dalam membasmi nyamuk?
1.3
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini yakni sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui pemanfaatan ekstrak limbah kulit jeruk Bali dalam
membasmi nyamuk.
2. Untuk mengetahui
perbedaan pengaruh perlakuan 0, perlakuan 1, dan perlakuan 2 dalam membasmi
nyamuk.
1.4
Manfaat Penelitian
a. Bagi penulis :
1. Dapat menambah
wawasan dan pengalaman mengenai pemanfaatan
ekstrak kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk.
b. Bagi masyarakat :
1. Dapat mengetahui
manfaat dari kulit jeruk Bali untuk membasmi nyamuk.
2. Menanamkan wawasan
mengenai bahaya obat pembasmi nyamuk sintetis.
1.5
Batasan Masalah
Adapun batasan masalah penelitian dalam penelitian
ini yakni :
1. Pengunaan limbah jeruk Bali untuk membasmi nyamuk
2.
Obat pembasmi nyamuk sintetis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kulit jeruk Bali
Jeruk Bali adalah salah
satu dari varian jeruk yang biasa kita temui hanya saja bentuknya lebih besar
dan berkulit tebal, nama latin jeruk ini adalah Citrus grandis sedangkan di Pasar Internasional jeruk ini sering
disebut dengan Pamelo. Meski namanya jeruk Bali namun, jeruk ini tidak berasal
dari Bali. Karena faktanya belum ada peneliti yang mengetahui asal jeruk ini
sebenarnya. Jeruk ini bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah tinggi (Viva,
2012).
Buah jeruk Bali memiliki rasa yang
manis dan segar. Di Bali sendiri jeruk Bali banyak digunakan untuk campuran
rujak. Selain buahnya yang bermanfaat, kulit jeruk Bali pun mempunyai banyak
manfaat salah satunya adalah membasmi nyamuk. Kulit jeruk Bali berwarna hijau,
kecoklatan dan bertekstur tebal ini mengandung asam limonen yang lebih banyak
dibanding kulit jeruk lainnya.
Secara kimiawi, kulit
jeruk Bali mengandung minyak atsiri yang terdapat dari berbagai komponen
seperti terpen, sesquiterpen, aldehia, ester dan sterol 3. Rincian komponen
minyak kulit jeruk adalah sebagai berikut: limonene (94%), mirsen (2%),
linalool (0,5%), oktanol (0,5%), decanal (0,4%), sitronelal (0,1%), neral
(0,1%), geranial (0,1%), valensen (0,05%), dan sinensal (0,01%). Sebagian besar
minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organic terpena dan terpenoid
yang bersifat larut dalam minyak/lipofil. Bahan aktif yang berperan aktif
terutama senyawa limonene yang dikandung minyak atsiri kulit jeruk (Switaning,
2010).
2.2 Asam Limonen
Limonen adalah hidrokarbon dan diklasifikasikan dalam
terpene siklik. Limonen bias diperoleh dari kulit jeruk. Limonen seperti
monoterpene lain dapat diperoleh dari pohon tertentu. Limonene dapat didapatkan
dari kulit jeruk, jintan, adas, dan seledri. Konsentrasi tipikal dari
monoterpene di udara di hutan kayu adalah 1 sampai 10 g/m2
(Filipsson et al, 1998)
2.3 Teknik Destilasi
Destilasi atau penyulingan
merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan
atau kemudahan menguap bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan
sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan (Anonim, 2013).
Destilasi juga merupakan suatu
proses pemurnian yang didahului oleh penguapan senyawa cair dengan cara
memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang terbentuk. Prinsip dasar dari
destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat zat cair dalam campuran zat
cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah akan
menguap terlebih dahulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan
menetes sebagai zat murni (destilat). Destilasi digunakan untuk memurnikan zat
cair yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan
berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni, kemudian uap ini akan
didinginkan pada pendinginan ini uap mengembun menjadi cairan murni (destilat).
Destilisasi
yang digunakan adalah destilasi sederhana yakni perbedaan titik didih yang jauh
atau dengan salah satu komponen yang bersifat volati. Jika campuran dipanaskan
maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain
perbedaan titik didih juga perbedaan keyolatilan yaitu kecendrungan sebuah
subtansi untuk menjadi gas. Destilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer.
Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan
alcohol (Anonim 2012).
2.4
Nyamuk
Nyamuk adalah serangga
terbang yang biasa ditemukan pada daerah kumuh maupun bersih. Keberadaan nyamuk
disekiar masyarakat merupakan sebuah masalah besar bagi masyarakat. Karena
keberadaan nyamuk yang merugikan tersebut tentu akan sangat menganggu aktiftas
manusia. Tak lain dengan jentik nyamuk. Nyamuk suka menetaskan jentik-jentik
pada bak-bak air di rumah tangga. Akibatnya sebagian masyarakat yang berencana
menggunakan air pada bak yang berisi jentik-jentik tentu akan jijik melihatnya
dan mengurungkan niat untuk menggunakan air tersebut.
Nyamuk mengalami empat
tahap dalam siklus hidup, yakni : telur, larva, pupa, hingga nyamuk dewasa.
Telur-telur nyamuk akan dierami oleh induknya dalam bentuk suatu rakit yang
biasanya terdiri kurang lebih dari 300 telur. Setelah itu, telur tersebut akan
menetas dalam kurun waktu yang hampir sama dan berubah menjadi larva. Larva
yang lebih dikenal sebagai jentik-jentik dalam waktu 5 hari akan berubah
menjadi pupa. Setelah 2 hari, pupa akan berubah menjadi nyamuk dewasa, lalu
perlahan nyamuk akan muncul keluar ke permukaan air dan dalam 5 menit ia akan
menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar air. Nyamuk dewasa adalah tahap
akhir dari siklus hidup nyamuk. Dimana nyamuk perlu diwaspadai kehadirannya
karena dapat menimbulkan berbagai penyakit salah satunya adalah demam berdarah.
Nyamuk dewasa tentu tidak hanya membawa wabah penyakit demam berdarah. Nyamuk
juga berpotensi menyebabkan penyakit lain, seperti : malaria, chikungunya,
filariasis, dan encepalitis.
Adapun klasifikasi
nyamuk, yaitu :
Kingdom : Animalia
Filum : Invertebrata
Kelas : Insecta
Ordo : Dipera
Famili : Culicidae
Subfamili : Culicinae
Filum : Invertebrata
Kelas : Insecta
Ordo : Dipera
Famili : Culicidae
Subfamili : Culicinae
2.5 Obat Pembasmi Nyamuk
Obat pembasmi nyamuk sangat mudah
ditemukan di pasaran, baik dalam bentuk semprot, obat bakar, cair, dan
elektrik. Pada umumnya obat pembasmi nyamuk mengandung bahan-bahan berbahaya
sebagai berikut :
a. Propoxur
Propoxur atau
C11-H15-N-O3 juga biasa disebut Aprocarb (senyawa karbamat) banyak digunakan dalam racun pembasmi nyamuk yang memiliki resiko merusak
kesehatan karena dapat masuk ke dalam tubuh
melalui tiga cara : termakan atau
terminum bersama makanan atau minuman yang
tercemar, dihirup dalam bentuk gas dan uap, termasuk yang langsung menuju paru-paru lalu masuk ke dalam
aliran darah atau terserap
melalui kulit dengan atau tanpa
terlebih dahulu menyebabkan luka pada kulit. Propoxur termasuk insektisida atau racun pembasmi hama, dan di
Indonesia racun-racun tersebut dijual secara bebas kepada masyarakat luas yang
awam akan pengertian bahaya bahan
kimia dan pemerintah seperti menutup mata terhadap
hal ini. Propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup maupun terserap tubuh manusia dapat
mengaburkan penglihatan, keringat berlebih,
pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan
pada saraf transmisi, dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi.
Jika tertelan efek
beracun dapat diakibatkan oleh ketidaksengajaan menelan material ini, eksperimen binatang menunjukkan bahwa
proses pencernaan kurang dari 40 gram berakibat
fatal atau dapat menghasilkan kerusakan serius pada kesehatan dari individu. Proses pencernaan dapat
menghasilkan mual, muntah, kehilangan selera makan, kram abdominal, dan diare.
Jika Terkena mata ada beberapa bukti untuk
menyatakan bahwa material ini dapat menyebabkan iritasi mata dan kerusakan pada beberapa individu. Kontak mata
secara langsung bisa menghasilkan air
mata, pelipatan pada kelopak mata, kontraksi atau pengucupan anak mata, kehilangan fokus dan pengaburan
penglihatan. Kadang-kala dilasi atau
pembesaran anak mata bisa saja terjadi.
Jika terkena kulit ontak antara kulit
dengan material mungkin berbahaya; efek sistemik dapat terjadi bila material terserap. Bahan
ini dianggap bersifat mengiritasi terhadap kulit seperti digolongkan oleh EC Directives pada binatang percobaan.
Rasa tidak nyaman dapat
dihasilkan akibat pemaparan dalam waktu yang lama. Higiene industri yang baik mengharuskan pemaparan terhadap bahan agar seminimal mungkin dan penggunaan sarung tangan yang cocok harus diterapkan dalam melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan bahan ini. Efek beracun bisa terjadi sebagai akibat penyerapan oleh kulit. Bagian yang terkena mungkin menyebabkan
keluarnya keringat dan kekejangan otot. Reaksi mungkin tertunda untuk beberapa jam.
dihasilkan akibat pemaparan dalam waktu yang lama. Higiene industri yang baik mengharuskan pemaparan terhadap bahan agar seminimal mungkin dan penggunaan sarung tangan yang cocok harus diterapkan dalam melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan bahan ini. Efek beracun bisa terjadi sebagai akibat penyerapan oleh kulit. Bagian yang terkena mungkin menyebabkan
keluarnya keringat dan kekejangan otot. Reaksi mungkin tertunda untuk beberapa jam.
Jika terhirup material ini dianggap tidak
menghasilkan iritasi pada pernapasan (seperti digolongkan oleh EC Directives dengan menggunakan binatang
percobaanl). Meskipun demikian
penghirupan debu, atau uap terutama untuk periode yang cukup lama, dapat menghasilkan gangguan saluran pernapasan. Keracunan
inhibitor kolinesterase menyebabkan gejala seperti peningkatan aliran darah kepada hidung, diare/mencret,
gangguan pada dada dan sesak nafas.
Gejala lain meliputi produksi air mata yang meningkat, rasa mual dan muntah-muntah, diare, sakit perut, pengeluaran
urine tanpa mampu dikontrol, sakit
dada, sulit bernafas, tekanan darah rendah, denyut jantung tidak beraturan, hilangnya refleks, kejang-kejang, gangguan penglihatan,
pengecilan ukuran pupil, konvulsi, kongesti paru-paru, kegagalan jantung dan
koma. Efek pada sistem syaraf meliputi
kehilangan keseimbangan, sulit berbicara, gemetar pada kelopak mata dan lidah, kelumpuhan otot tangan dan otot
saluran pernafasan, yang dapat menyebabkan kematian, walaupun kematian juga
dikaitkan dengan kegagalan jantung.
b. Dichlorvos
Dichlorvos adalah zat pembasmi
serangga yang ditemukan pada tahun 1955. Zat yang digolongkan dalam pestisida
kelas organofosfat ini efektif membasmi berbagai jenis serangga baik serangga
rumah seperti lalat maupun serangga pengganggu tanaman pertanian dan hewan
ternak seperti ulat melalui kontak fisik maupun sebagai racun yang ditelan.
Cara kerjanya adalah dengan cara menghambat aktivitas cholinesterase, enzim
yang sangat penting bagi kerja sistem saraf pada manusia dan serangga. Tersedia
dalam bentuk aerosol dan konsentrat terlarut. Selain sebagai pembasmi serangga,
zat ini digunakan pula dalam terapi untuk pengobatan infeksi cacing pada
anjing, hewan ternak, da n
manusia. Di Amerika Serikat, produk yang
mengandung dichlorvos harus mencantumkan peringatan bahaya dan beracun pada
kemasannya. Environment Protection Agency atau Agen Perlindungan Lingkungan
Amerika Serikat mulai menyelidiki bahan kimia ini pada 1988 berkaitan dengan
resiko kanker, gangguan kerja enzim pada sistem saraf dan gangguan fungsi hati
(liver) dan telah menggolongkannya sebagai zat karsinogenik bagi manusia
berdasarkan hasil pengujian pada tikus
Dichlorvos sangat beracun jika
dihirup, diserap melalui kulit atau tertelan. Karena zat ini mudah menguap,
keracunan paling sering terjadi melalui jalur pernafasan. Namun zat ini juga
sangat mudah diserap oleh kulit, sebagaimana halnya senyawa organofosfat
lainnya. Kulit yang terkena zat ini harus segera dicuci dengan air dan sabun.
Pakaian yang ikut terkena harus segera dilepas.
Apabila dihirup menyebabkan gangguan
pernafasan, hidung mengeluarkan darah atau cairan, batuk, dada sesak, nafas
pendek atau sulit bernafas karena adanya cairan pada saluran pernafasan. Bila
terkena kulit menyebabkan keringat lokal, kontraksi otot yang tidak
dikehendaki. Bila terkena mata menimbulkan sakit pada mata, mata berdarah,
keluar air mata, pupil mengkerut dan pandangan kabur. Dalam kasus yang parah
dapat terjadi juga buang air besar atau kecil tanpa sengaja, psychosis, denyut
jantung tidak teratur, pingsan, dan koma. Kematian dapat timbul akibat
kegagalan pernafasan atau jantung.
Penyakit akut yang dapat ditimbulkan oleh dichlorvos adalah inhibisi cholinesterase. Gejalanya cepat muncul dan cepat juga pulih karena tubuh akan segera mengolah dan membuang dichlorvos. Namun bagi orang-orang yang memiliki gangguan fungsi hati dan jantung, resiko akibat ekspos dichlorvos akan meningkat. Minuman beralkohol dapat menambah efek racun zat ini, demikian juga dengan suhu lingkungan yang tinggi atau jika terkena sinar matahari. (Dimas 2013).
Penyakit akut yang dapat ditimbulkan oleh dichlorvos adalah inhibisi cholinesterase. Gejalanya cepat muncul dan cepat juga pulih karena tubuh akan segera mengolah dan membuang dichlorvos. Namun bagi orang-orang yang memiliki gangguan fungsi hati dan jantung, resiko akibat ekspos dichlorvos akan meningkat. Minuman beralkohol dapat menambah efek racun zat ini, demikian juga dengan suhu lingkungan yang tinggi atau jika terkena sinar matahari. (Dimas 2013).
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
penulis lakukan di lingkungan SMA Negeri 5 Denpasar serta
di ruang laboratorium. Penelitian ini penulis
lakukan pada tanggal 20 Oktober 2015 – 30 Oktober 2015.
3.2
Populasi dan Sampel
Populasi
yang penulis gunakan adalah populasi nyamuk yang penulis dapatkan secara acak
di sekitar belakang kelas di SMP NEGERI 4 Denpasar. Sampel nyamuk yang
digunakan yaitu sebanyak 20 ekor nyamuk. Penulis menangkap nyamuk dengan
menggunakan jaring dan dikumpulkan dalam dua toples. Setiap toples penulis bagi
sama rata menjadi 10 ekor nyamuk untuk perlakuan 1 dan perlakuan 2.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel
Kontrol : Jumlah limbah kulit jeruk dan jumlah air
Variabel
Bebas : Teknik pengolahan ekstrak limbah kulit jeruk Bali
Variabel
Respon : Waktu mati nyamuk
3.4
Jenis Data dan Sumber Data
3.4.1 Jenis Data
Berdasarkan hasil dari eksperimen serta
studi dari website seluruh data dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif
dan kualitatif atau memaparkan hasil penelitian yang diperoleh baik itu dari
eksperimen maupun dari observasi.
3.4.2 Sumber Data
Data dan sumber
data diperoleh melalui data primer dan data sekunder.
Data primer : data yang diperoleh
melalui observasi atau pengamatan.
Data sekunder : data yang diperoleh
melalui studi kepustakaan.
3.5
Alat dan Bahan
Adapun alat dan
bahan yang diperlukan penulis dalam melalukan eksperimen ini, yaitu :
a.
Bahan
1.
Kulit
jeruk bali total 10 gram
2.
Air
total 160 ml
3.
Nyamuk
total 20 ekor
b. Alat
1.
Dasar
statif (1 buah)
2.
Kaki
statif (1 buah)
3.
Batang
statif pendek (1 buah)
4.
Batang
statif panjang (1 buah)
5.
Selang
silikon (1 buah)
6.
Penyambung
selang (1 buah)
7.
Klem
Universal (1 buah)
8.
Klem
Bosshead (1 buah)
9.
Labu
Erlenmayer (1 buah)
10.
Sumbat
karet besar 1 lubang (1 buah)
11.
Bak
plastik (1 buah)
12.
Gelas
beaker (1 buah)
13.
Pembakar
spiritus (1 buah)
14. Alu dan lumpang (1 buah)
15. Pisau (1 buah)
3.6
Cara Kerja
A. Perlakuan 1
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Merangkai alat destilasi
2. Potong kecil 5 gr limbah kulit jeruk
Bali, masukkan ke dalam labu erlenmeyer dan campurkan air 80 ml
3. Letakkan di labu erlenmeyer, nyalakan
lampu spirtus
4. Setelah 30 menit, ekstrak kulit jeruk
Bali didapatkan
5. Masukkan ekstrak ke botol semprot
B. Perlakuan 2
1. Kulit jeruk Bali, dipotong kecil
kecil
2. Masukkan 5 gr kulit jeruk pada
lumpang
3. Masukkan air 80 ml ke dalam lumpang
4. Lalu ditumbuk hingga mengeluarkan ekstrak.
5. Masukan ekstrak ke dalam labu
erlenmeyer, untuk didestilasi
6. Setelah 40 menit, masukkan ke dalam
botol semprot.
3.7 Metode Pengumpulan Data
3.2.1 Metode Observasi
Metode observasi dilakukan di SMPN 4
Denpasar untuk mengetahui adanya nyamuk di lingkungan sekolah.
3.2.2 Metode Kajian Pustaka
Metode ini dilakukan dengan mengambil
data relevan dari internet mengenai nyamuk, limbah kulit jeruk Bali, obat
pembasmi nyamuk, dan teknik destilasi.
3.2.3 Metode Eksperimen
Metode yang dilakukan adalah penyulingan
dengan air (water distillation) untuk
mendapatkan ekstrak dari kulit jeruk Bali.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Observasi
Berdasarkan
observasi yang penulis lakukan, di lingkungan SMP Negeri 4 Denpasar masih
terdapat banyak nyamuk, terutama pada belakang kelas yang gelap dan terlihat
tidak terawat. Dari pengamatan
tersebut penulis ingin membasmi nyamuk yang berada di lingkungan, namun penulis
tidak ingin menggunakan bahan kimia seperti obat nyamuk yang banyak dijual di
pasaran untuk membasmi nyamuk. Penulis ingin menggunakan bahan alami yang ramah
lingkungan agar tidak membuat menimbulkan dampak negatif.
Limbah kulit jeruk bali menjadi pilihan
penulis sebagai bahan alternatif alami untuk membasmi nyamuk. Kulit jeruk Bali
memiliki kandungan asam limonen yang dapat membasmi nyamuk. Selain itu, kulit
jeruk Bali juga ramah lingkungan sehingga tidak memiliki efek samping dalam
penggunaannya. Maka dari itu, penulis ingin menggunakan limbah kulit jeruk Bali
sebagai bahan alternatif alami untuk membasmi nyamuk.
4.2 Hasil Eksperimen
Hasil eksperimen penggunaan limbah kulit
jeruk Bali sebagai pembasmi nyamuk dengan dua perlakuan dapat dilihat pada
tabel berikut.
|
No
|
Perlakuan
|
Respon ketika
disemprotkan
|
Respon setelah 3
menit
|
Respon setelah 7
menit
|
|
1.
|
P-0
|
-
|
-
|
-
|
|
2.
|
P-1
|
Berterbangan panik
|
Semua nyamuk mati
|
Semua nyamuk mati
|
|
3.
|
P-2
|
Berterbangan panik
|
1 Nyamuk mati
|
Semua nyamuk mati
|
Keterangan :
- = Tidak ada
respon
P-0 = Tanpa perlakuan
P-1 = Dengan menggunakan limbah kulit
jeruk Bali yang di potong kecil, kemudian di destilasi dengan dosis sebanyak 5
gr kulit jeruk dan 80 ml air. Setelah itu di semprotkan ke 10 ekor nyamuk.
P-2 = Dengan menggunakan 5 gr limbah
kulit jeruk Bali yang di potong kecil kemudian di tumbuk dengan 80 ml air,
hasil tumbukan di destilasi. Setelah itu di semprotkan ke 10 ekor nyamuk.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui
bahwa pada perlakuan 0 tidak ada respon. Pada perlakuan 1 ketika nyamuk
disemprotkan nyamuk terlihat panik, dan kemudian nyamuk mati dan pada perlakuan
2 ketika nyamuk disemprotkan nyamuk terlihat panik, lalu setelah 3 menit 1
nyamuk mati dan setelah 7 menit semua nyamuk mati. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa
perlakuan yang paling ampuh adalah perlakuan 1 dengan menggunakan 5 gr kulit
jeruk dengan 80 ml air yang di destilasi selama 30 menit, dimana nyamuk mati
pada menit ke 3.
4.3 Pengaruh Kulit Jeruk
Bali Dalam Membasmi Nyamuk
Kulit jeruk Bali terbukti dapat
digunakan membasmi nyamuk karena kulit jeruk Bali mengandung asam limonen yang
tidak disukai bangsa nyamuk. Berdasarkan hasil experimen diatas dapat diketahui
bahwa ekstrak limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk. Karena
kulit jeruk Bali memiliki kandungan asam limonen yang beberapa kali lebih
banyak dibandingkan jeruk lainnya. Ini karena kulit jeruk Bali lebih tebal
dibanding jeruk lainnya (Anonim, 2013).
Ekstrak yang didapatkan berwarna hijau kecoklatan. Memiliki aroma jeruk pekat
yang khas. Ekstrak ini disemprotkan ke nyamuk dan kemudian dihitung waktu
matinya nyamuk. Pada perlakuan 1 nyamuk mati setelah 3 menit.
4.4 Perbedaan Perlakuan
Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali
Pada penelitian ini menggunakan P-0,
P-1, dan P-2. Pada P-0 tanpa adanya perlakuan nyamuk tidak merespon. Pada P-1
yang dimana ketika nyamuk disemprotkan nyamuk mulai berterbangan panik, dan
setelah 3 menit nyamuk mati. Pada P-2 ketika disemprotkan nyamuk berterbangan
panik, lalu setelah 3 menit 1 nyamuk mati dan setelah 7 menit semua nyamuk
mati. Perlakuan yang paling ampuh adalah perlakuan 1 karena nyamuk lebih cepat
mati dibanding perlakuan 0 dan 2.
Perlakuan 1 lebih cepat membasmi nyamuk
karena pada perlakuan 2 pada proses pengolahan penulis menumbuk terlebih dahulu
kulit jeruk Bali lalu kemudian dilanjutkan pada proses destilasi. Penulis
menduga bahwa saat ditumbuk kandungan asam limonen sudah menguap atau
terkontaminasi dengan udara, sehingga saat proses destilasi kandungan asam
limonen lebih sedikit dibanding perlakuan 1.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
1. Berdasarakan hasil eksperimen diketahui bahwa
limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk karena kulit jeruk
Bali mengandung asam limonen
yang
tidak disukai nyamuk sehingga dapat dimanfaatkan untuk membasmi nyamuk
2. Perbedaan pada perlakuan 1 dengan perlakuan 2 adalah pada perlakuan 1 lebih cepat bereaksi dalam membasmi jentik nyamuk
dibanding dengan perlakuan 2 lebih lama bereaksi dalam membasmi
nyamuk, karena pada proses destilasi asam limonen lebih banyak ada pada
perlakuan 1.
5.2 Saran
Saran-saran
yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Diharapkan
kepada masyarakat agar menggunakan kulit jeruk Bali untuk membasmi nyamuk di sekitar rumah.
2.
Kepada pembaca
yang tertarik dengan penelitian ini diharapkan untuk meneliti lebih lanjut
tentang kegunaan kulit jeruk Bali sehingga dapat diketahui lebih jelas manfaat ekstrak
serta kandungan kulit
jeruk Bali untuk membasmi nyamuk.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2012. Nyamuk. id.wikipedia.org/
Anonim.2013. Kulit Jeruk Bali. nasional.sindonews.com/
Anonim.2013. Teknik Destilasi. id.wikipedia.org/
Filipsson.1998. Asam limonen. devinarisagita.wordpress.com/
Aulia Rahim. 2011. Proses Destilasi. http://chemistry-ku.blogspot.com/
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
KETUA
Nama
: Kadek
Haripriya Dewi
TTL : Denpasar
Selatan, 7 Pebruari 1999
Alamat
: Jalan
Gelogor Indah 1A/12, Gelogor Carik, Pemogan
No.
Sekolah : 0361
422486
No.
Hp. : 085792968850
E-mail
: kadekharipriyadewi@yahoo.com
Karya
Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. Pemanfaatan
Ekstrak Daun Sirih Sebagai Bahan Alternatif Alami yang Ramah Lingkungan Untuk
Membasmi Jentik Nyamuk
2. Bahaya
Mengkonsumsi Makanan Cepat Saji atau Junk
Food
3. Mensiasati
Emotional Quotiens Remaja yang Rendah
Dengan Ajaran Yoga Kota Denpasar
4. Pemanfaatan
Daun Sirih Untuk Mengusir Semut
5. Menanggulangi
Remaja Dengan Kebiasan Buruk Merokok Guna Terciptanya Siswa yang Berbudi Pekerti
Luhur
6. Pengolahan
Limbah Bunga Kamboja Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Aromaterapi
7. Pengenalan
Sokasih (Selokan Bersih) Di SMP Negeri 4 Denpasar Guna Melahirkan Lingkungan
yang Sehat
8. Penerapan
Budaya Lokal Kota Denpasar Dengan Acara Pesta Kesenian Bali
ANGGOTA
Nama
: Rivandy
Rahman Idris
TTL : Denpasar,
14 Pebruari 2000
Alamat
: Jalan Taman
Mulia Jimbaran Gg Mawar / 84
No.
Sekolah : 0361
422486
No.
Hp. :
083119935172
E-mail
: r_rahman_i@yahoo.com
Karya
Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. Usulan
Budi Pekerti Dalam Menciptakan Siswa Generasi Emas
Komentar
Posting Komentar