PENGARUH EKSTRAK LIMBAH KULIT JERUK BALI
(Citrus grandis) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF
PEMBASMI NYAMUK


OLEH :

KADEK HARIPRIYA DEWI
RIVANDY RAHMAN IDRIS


SMPN 4 DENPASAR
JALAN GUNUNG AGUNG
KOTA DENPASAR
TAHUN 2013

PEMERINTAH KOTA DENPASAR
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ( SMPN ) 4 DENPASAR

Jalan Gunung Agung Denpasar, Telp/Fax : (0361) 422486








 
                                                                                                                                                       

LEMBAR PENGESAHAN



Pengaruh Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis)
sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk


Oleh :
Kadek Haripriya Dewi
Rivandy Rahman Idris







Mengetahui

Kepala SMP N 4 Denpasar



Drs. I Wayan Dhania, M.Pd
NIP. 19591231 198503 1 233
 
Denpasar, 20 Februari 2014

Pembimbing
KIR SMP Negeri 4 Denpasar


Ni Luh Arick Istriyanti, S.Psi
 
 



                                                                                   


                                                                                                                                                                                                 




KATA PENGANTAR
Berkat berkah dan rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan dengan dukungan dari guru pembimbing, orang tua dan teman- teman, maka terciptalah sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk”. Penulis menyadari karya tulis ini tidak sepenuhnya sempurna karena pengetahuan yang penulis miliki masih terbatas. Namun rasa bangga masih penulis rasakan karena telah berhasil menyelesaikan Karya tulis ilmiah ini dengan kemampuan yang penulis miliki.
Di kesempatan yang baik ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini dalam waktu yang sudah di tetapkan dan ketentuan yang sudah berlaku. Disamping itu semua, penulis mengharapkan karya tulis ilmiah yang telah dibuat ini diberikan kritik dan saran yang sehat sehingga memotivasi penulis dalam membuat karya tulis ilmiah.
Demikian sepatah kata yang dapat penulis sampaikan, dan jika ada kesalahan yang tersirat maupun tersurat mohon dimaafkan. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terimakasih.
                                                                       
                                   
                                                                        Denpasar, 20 Februari 2014
                                                                                               
                                                                                                                   Penulis  
                                                                       

DAFTAR ISI
JUDUL…………………………………………………………………………………………i
PENGESAHAN…………………………………………………………………………….....ii
KATA PENGANTAR ..........…………………………………………............................   iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………...........................……...…. iv
ABSTRAKSI ..……………………………………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1              Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2              Rumusan Masalah ........................................................................................................ 2
1.3              Tujuan Penelitian ......................................................................................................... 2
1.4              Manfaat Penelitian ....................................................................................................... 2
1.5              Batasan Masalah .......................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 4
2.1 Kulit jeruk Bali ................................................................................................................... 4
2.2 Asam Limonen ................................................................................................................... 4
2.3 Teknik destilasi ................................................................................................................... 4
2.4 Nyamuk................................................................................................................................5
2.5 Obat pembasmi nyamuk.......................................................................................................6

BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………........……............... 9
3.1 Lokasi Penelitian ……………………………………….........…………........................... 9
3.2 Populasi dan sampel ………………………………….................…………...................... 9
3.3 Variabel penelitian …………………………...…………..................……........................ 9
3.4 Data dan sumber data ......................................................................................................... 9
3.4 Alat dan Bahan ………………………………………………..............……..................... 9
3.4.1 Bahan ………………………………………………….........……................................ 10
3.4.2 Alat ……………………………………………….............…....................................... 10
3.5 Cara Kerja …………………………………………………............…............................. 10
3.6 Metode pengumpulan data ………………………………............…................................11
3.8 Metode analisa data........................................................................................................... 11

BAB IV PEMBAHASAN ...................................................................................................... 12
4.1 Hasil Observasi ................................................................................................................. 12
4.2 Hasil Eksperimen ............................................................................................................. 12
4.3 Pengaruh kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk....................................................... 13
4.4 Perbedaan perlakuan 0,1,2 ............................................................................................... 13
                                                                                                      
BAB V PENUTUP …............................................................................................................. 14
5.1 Simpulan ………………………………………………………....................................... 14
5.2 Kritik dan Saran ………………………………………………….................................... 14

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..................... 15
LAMPIRAN 
Daftar Riwayat Hidup Penulis



ABSTRAKSI

Pengaruh Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis) sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk (Rivandie rahmanekus)

Kadek Haripriya Dewi & Rivandy Rahman Idris

Nyamuk merupakan serangga yang tidak disukai masyarakat karena dianggap mengganggu dan menimbulkan banyak masalah kesehatan. Obat pembasmi nyamuk yang banyak dijual di pasaran menjadi pilihan masyarakat untuk membasmi nyamuk. Padahal, kandungan racun pada obat pembasmi nyamuk seperti Propoxur dan Dichlorvos dapat membahayakan kesehatan masyarakat seperti menimbulkan sesak nafas, mual, dan batuk. Sebenarnya masyarakat dapat memanfaatkan limbah kulit jeruk Bali untuk membasmi nyamuk. Selain ramah lingkungan, kulit jeruk juga mudah diolah.
Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan yakni, P-0, P-1, dan P-2 dengan menggunakan metode destilasi. Pengamatan dilakukan selama 30-45  menit untuk mengetahui pengaruh ekstrak limbah kulit jeruk Bali terhadap nyamuk dan pengaruh perbedaan perlakuan ekstrak limbah kulit jeruk Bali. Penelitian ini dilakukan di laboratorium SMPN 4 Denpasar pada tanggal 19 Februari 2014 – 20 Februari 2014.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk. Nyamuk lebih cepat mati pada perlakuan 1 dalam waktu 3 menit sehingga dapat disimpulkan penggunaan perlakuan 1 lebih efektif dalam membasmi nyamuk

Kata kunci : Nyamuk, Ekstrak Limbah Jeruk Bali, Pembasmi Nyamuk, Obat Pembasmi Nyamuk Sintetis
 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberadaan nyamuk di lingkungan masyarakat sangatlah mengganggu, karena prilaku nyamuk  yang menggigit dan juga membawa bibit penyakit, seperti : demam berdarah, malaria, chikungunya, dan lainnya. Terutama pada musim penghujan, nyamuk berkembang biak dengan sangat pesat. Berbagai obat pembasmi nyamuk atau obat anti  nyamuk dengan bermacam merk sudah banyak tersedia di pasaran. Baik dalam bentuk semprot, batang, lotion, maupun mat. Janji manis iklan obat nyamuk membuat masyarakat memilih untuk menggunakan obat nyamuk yang dijual bebas di pasaran. Penggunaan bahan kimia dalam membasmi nyamuk tidak tentu baik. Mengingat bahwa prinsip dari obat pembasmi nyamuk adalah racun, dan racun bukanlah bahan yang aman. Hampir semua pembasmi nyamuk mengandung zat aktif propoxur, DDVP atau dichlorvos (Handoko, 2013). Penggunaan obat pembasmi nyamuk juga tidak selamanya terbilang ampuh, beberapa bahkan hanya mampu membasmi nyamuk demam berdarah, bukan nyamuk yang biasanya mengganggu pada malam hari. Bahkan pemakaian dalam jangka panjang membuat nyamuk menjadi resisten terhadap obat pembasmi nyamuk.  Kemudian, penggunaan lotion reppelent di kalangan masyaraat juga berbahaya karena mengandung zat DEET yang dapat merusak kulit bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Walaupun dikatakan bahwa mengandung aloe vera, zat aktifnya tetaplah DEET yang berbahaya bagi kulit.
Mengingat bahaya penggunaan obat anti nyamuk ataupun obat pembasmi nyamuk maka perlu adanya alternatif yang tidak memberikan dampak negatif dalam penggunaannya. Alam sebenarnya sudah menyediakan bahan yang dapat digunakan untuk membasmi nyamuk. Salah satunya yaitu limbah kulit jeruk Bali. Kulit jeruk pada umumnya mengandung asam limonen yang tidak disukai bangsa serangga terutama nyamuk. Buah jeruk bali biasanya digunakan sebagai pencuci mulut dan juga sesajen adat di Bali. Selain itu, jeruk bali bisa digunakan untuk mengatasi pilek, flu, keram, dan lainnya. Jeruk Bali memiliki rasa yang manis sehingga banyak digemari. Namun, selama ini pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali masih terbilang kurang, dan biasanya masyarakat hanya membuang kulit jeruk Bali tanpa memanfaatkannya menjadi benda yang berguna. Asam limonen pada kulit jeruk Bali dapat dikatakan lebih banyak dibanding dengan kulit jeruk lainnya, karena kulit jeruk Bali lebih tebal dan aromanya lebih pekat. Asam iniliah yang tidak disukai oleh nyamuk sehingga penulis  manfaatkan sebagai bahan alami pembasmi nyamuk.
Maka dari itu, berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dengan judul Pemanfaatan Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali (Citrus grandis) Sebagai Bahan Alternatif Pembasmi Nyamuk”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimanakah pemanfaatan ekstrak limbah kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk ?
2. Bagaimanakah perbedaan perlakuan P-0, P-1, dan P-2 dalam membasmi nyamuk?
1.3 Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pemanfaatan ekstrak limbah kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk.
2. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh perlakuan 0, perlakuan 1, dan perlakuan 2 dalam membasmi nyamuk.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi penulis :
1. Dapat menambah wawasan dan pengalaman mengenai pemanfaatan ekstrak kulit jeruk Bali dalam membasmi nyamuk.
b. Bagi masyarakat :
1. Dapat mengetahui manfaat dari kulit jeruk Bali untuk membasmi nyamuk.
2. Menanamkan wawasan mengenai bahaya obat pembasmi nyamuk sintetis.
1.5 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah penelitian dalam penelitian ini yakni :
            1. Pengunaan limbah jeruk Bali untuk membasmi nyamuk
            2. Obat pembasmi nyamuk sintetis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kulit jeruk Bali
            Jeruk Bali adalah salah satu dari varian jeruk yang biasa kita temui hanya saja bentuknya lebih besar dan berkulit tebal, nama latin jeruk ini adalah Citrus grandis sedangkan di Pasar Internasional jeruk ini sering disebut dengan Pamelo. Meski namanya jeruk Bali namun, jeruk ini tidak berasal dari Bali. Karena faktanya belum ada peneliti yang mengetahui asal jeruk ini sebenarnya. Jeruk ini bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah tinggi (Viva, 2012).
            Buah jeruk Bali memiliki rasa yang manis dan segar. Di Bali sendiri jeruk Bali banyak digunakan untuk campuran rujak. Selain buahnya yang bermanfaat, kulit jeruk Bali pun mempunyai banyak manfaat salah satunya adalah membasmi nyamuk. Kulit jeruk Bali berwarna hijau, kecoklatan dan bertekstur tebal ini mengandung asam limonen yang lebih banyak dibanding kulit jeruk lainnya.
            Secara kimiawi, kulit jeruk Bali mengandung minyak atsiri yang terdapat dari berbagai komponen seperti terpen, sesquiterpen, aldehia, ester dan sterol 3. Rincian komponen minyak kulit jeruk adalah sebagai berikut: limonene (94%), mirsen (2%), linalool (0,5%), oktanol (0,5%), decanal (0,4%), sitronelal (0,1%), neral (0,1%), geranial (0,1%), valensen (0,05%), dan sinensal (0,01%). Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organic terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil. Bahan aktif yang berperan aktif terutama senyawa limonene yang dikandung minyak atsiri kulit jeruk (Switaning, 2010).  
2.2 Asam Limonen
            Limonen adalah hidrokarbon dan diklasifikasikan dalam terpene siklik. Limonen bias diperoleh dari kulit jeruk. Limonen seperti monoterpene lain dapat diperoleh dari pohon tertentu. Limonene dapat didapatkan dari kulit jeruk, jintan, adas, dan seledri. Konsentrasi tipikal dari monoterpene di udara di hutan kayu adalah 1 sampai 10 g/m2 (Filipsson et al, 1998)
2.3 Teknik Destilasi
            Destilasi atau penyulingan merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan (Anonim, 2013).
            Destilasi juga merupakan suatu proses pemurnian yang didahului oleh penguapan senyawa cair dengan cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang terbentuk. Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat zat cair dalam campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah akan menguap terlebih dahulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes sebagai zat murni (destilat). Destilasi digunakan untuk memurnikan zat cair yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni, kemudian uap ini akan didinginkan pada pendinginan ini uap mengembun menjadi cairan murni (destilat).
Destilisasi yang digunakan adalah destilasi sederhana yakni perbedaan titik didih yang jauh atau dengan salah satu komponen yang bersifat volati. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih juga perbedaan keyolatilan yaitu kecendrungan sebuah subtansi untuk menjadi gas. Destilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alcohol (Anonim 2012).
2.4 Nyamuk
Nyamuk adalah serangga terbang yang biasa ditemukan pada daerah kumuh maupun bersih. Keberadaan nyamuk disekiar masyarakat merupakan sebuah masalah besar bagi masyarakat. Karena keberadaan nyamuk yang merugikan tersebut tentu akan sangat menganggu aktiftas manusia. Tak lain dengan jentik nyamuk. Nyamuk suka menetaskan jentik-jentik pada bak-bak air di rumah tangga. Akibatnya sebagian masyarakat yang berencana menggunakan air pada bak yang berisi jentik-jentik tentu akan jijik melihatnya dan mengurungkan niat untuk menggunakan air tersebut.
Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup, yakni : telur, larva, pupa, hingga nyamuk dewasa. Telur-telur nyamuk akan dierami oleh induknya dalam bentuk suatu rakit yang biasanya terdiri kurang lebih dari 300 telur. Setelah itu, telur tersebut akan menetas dalam kurun waktu yang hampir sama dan berubah menjadi larva. Larva yang lebih dikenal sebagai jentik-jentik dalam waktu 5 hari akan berubah menjadi pupa. Setelah 2 hari, pupa akan berubah menjadi nyamuk dewasa, lalu perlahan nyamuk akan muncul keluar ke permukaan air dan dalam 5 menit ia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar air. Nyamuk dewasa adalah tahap akhir dari siklus hidup nyamuk. Dimana nyamuk perlu diwaspadai kehadirannya karena dapat menimbulkan berbagai penyakit salah satunya adalah demam berdarah. Nyamuk dewasa tentu tidak hanya membawa wabah penyakit demam berdarah. Nyamuk juga berpotensi menyebabkan penyakit lain, seperti : malaria, chikungunya, filariasis, dan encepalitis.
Adapun klasifikasi nyamuk, yaitu :
Kingdom : Animalia
Filum : Invertebrata
 Kelas : Insecta
  Ordo : Dipera
   Famili : Culicidae
    Subfamili : Culicinae

2.5 Obat Pembasmi Nyamuk
            Obat pembasmi nyamuk sangat mudah ditemukan di pasaran, baik dalam bentuk semprot, obat bakar, cair, dan elektrik. Pada umumnya obat pembasmi nyamuk mengandung bahan-bahan berbahaya sebagai berikut :
a. Propoxur
Propoxur atau C11-H15-N-O3 juga biasa disebut Aprocarb (senyawa karbamat) banyak digunakan dalam racun pembasmi nyamuk yang memiliki resiko merusak kesehatan karena dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara : termakan atau terminum bersama makanan atau minuman yang tercemar, dihirup dalam bentuk gas dan uap, termasuk yang langsung menuju paru-paru lalu masuk ke dalam aliran darah atau terserap melalui kulit dengan atau tanpa terlebih dahulu menyebabkan luka pada kulit. Propoxur termasuk insektisida atau racun pembasmi hama, dan di Indonesia racun-racun tersebut dijual secara bebas kepada masyarakat luas yang awam akan pengertian bahaya bahan kimia dan pemerintah seperti menutup mata terhadap hal ini. Propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup maupun terserap tubuh manusia dapat mengaburkan penglihatan, keringat berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi, dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi.
Jika tertelan efek beracun dapat diakibatkan oleh ketidaksengajaan menelan material ini, eksperimen binatang menunjukkan bahwa proses pencernaan kurang dari 40 gram berakibat fatal atau dapat menghasilkan kerusakan serius pada kesehatan dari individu. Proses pencernaan dapat menghasilkan mual, muntah, kehilangan selera makan, kram abdominal, dan diare.
Jika Terkena mata ada beberapa bukti untuk menyatakan bahwa material ini dapat menyebabkan iritasi mata dan kerusakan pada beberapa individu. Kontak mata secara langsung bisa menghasilkan air mata, pelipatan pada kelopak mata, kontraksi atau pengucupan anak mata, kehilangan fokus dan pengaburan penglihatan. Kadang-kala dilasi atau pembesaran anak mata bisa saja terjadi.
Jika terkena kulit ontak antara kulit dengan material mungkin berbahaya; efek sistemik dapat terjadi bila material terserap. Bahan ini dianggap bersifat mengiritasi terhadap kulit seperti digolongkan oleh EC Directives pada binatang percobaan. Rasa tidak nyaman dapat
dihasilkan akibat pemaparan dalam waktu yang lama. Higiene industri yang baik mengharuskan pemaparan terhadap bahan agar seminimal mungkin dan penggunaan sarung tangan yang cocok harus diterapkan dalam melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan bahan ini. Efek beracun bisa terjadi sebagai akibat penyerapan oleh kulit. Bagian yang terkena mungkin menyebabkan
keluarnya keringat dan kekejangan otot. Reaksi mungkin tertunda untuk  beberapa jam.
Jika terhirup material ini dianggap tidak menghasilkan iritasi pada pernapasan (seperti digolongkan oleh EC Directives dengan menggunakan binatang percobaanl). Meskipun demikian penghirupan debu, atau uap terutama untuk periode yang cukup lama, dapat menghasilkan gangguan saluran pernapasan. Keracunan inhibitor kolinesterase menyebabkan gejala seperti peningkatan aliran darah kepada hidung, diare/mencret, gangguan pada dada dan sesak nafas. Gejala lain meliputi produksi air mata yang meningkat, rasa mual dan muntah-muntah, diare, sakit perut, pengeluaran urine tanpa mampu dikontrol, sakit dada, sulit bernafas, tekanan darah rendah, denyut jantung tidak beraturan, hilangnya refleks, kejang-kejang, gangguan penglihatan, pengecilan ukuran pupil, konvulsi, kongesti paru-paru, kegagalan jantung dan koma. Efek pada sistem syaraf meliputi kehilangan keseimbangan, sulit berbicara, gemetar pada kelopak mata dan lidah, kelumpuhan otot tangan dan otot saluran pernafasan, yang dapat menyebabkan kematian, walaupun kematian juga dikaitkan dengan kegagalan jantung.
b. Dichlorvos
Dichlorvos adalah zat pembasmi serangga yang ditemukan pada tahun 1955. Zat yang digolongkan dalam pestisida kelas organofosfat ini efektif membasmi berbagai jenis serangga baik serangga rumah seperti lalat maupun serangga pengganggu tanaman pertanian dan hewan ternak seperti ulat melalui kontak fisik maupun sebagai racun yang ditelan. Cara kerjanya adalah dengan cara menghambat aktivitas cholinesterase, enzim yang sangat penting bagi kerja sistem saraf pada manusia dan serangga. Tersedia dalam bentuk aerosol dan konsentrat terlarut. Selain sebagai pembasmi serangga, zat ini digunakan pula dalam terapi untuk pengobatan infeksi cacing pada anjing, hewan ternak, da        n manusia.  Di Amerika Serikat, produk yang mengandung dichlorvos harus mencantumkan peringatan bahaya dan beracun pada kemasannya. Environment Protection Agency atau Agen Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mulai menyelidiki bahan kimia ini pada 1988 berkaitan dengan resiko kanker, gangguan kerja enzim pada sistem saraf dan gangguan fungsi hati (liver) dan telah menggolongkannya sebagai zat karsinogenik bagi manusia berdasarkan hasil pengujian pada tikus
Dichlorvos sangat beracun jika dihirup, diserap melalui kulit atau tertelan. Karena zat ini mudah menguap, keracunan paling sering terjadi melalui jalur pernafasan. Namun zat ini juga sangat mudah diserap oleh kulit, sebagaimana halnya senyawa organofosfat lainnya. Kulit yang terkena zat ini harus segera dicuci dengan air dan sabun. Pakaian yang ikut terkena harus segera dilepas.
Apabila dihirup menyebabkan gangguan pernafasan, hidung mengeluarkan darah atau cairan, batuk, dada sesak, nafas pendek atau sulit bernafas karena adanya cairan pada saluran pernafasan. Bila terkena kulit menyebabkan keringat lokal, kontraksi otot yang tidak dikehendaki. Bila terkena mata menimbulkan sakit pada mata, mata berdarah, keluar air mata, pupil mengkerut dan pandangan kabur. Dalam kasus yang parah dapat terjadi juga buang air besar atau kecil tanpa sengaja, psychosis, denyut jantung tidak teratur, pingsan, dan koma. Kematian dapat timbul akibat kegagalan pernafasan atau jantung.
Penyakit akut yang dapat ditimbulkan oleh dichlorvos adalah inhibisi cholinesterase. Gejalanya cepat muncul dan cepat juga pulih karena tubuh akan segera mengolah dan membuang dichlorvos. Namun bagi orang-orang yang memiliki gangguan fungsi hati dan jantung, resiko akibat ekspos dichlorvos akan meningkat. Minuman beralkohol dapat menambah efek racun zat ini, demikian juga dengan suhu lingkungan yang tinggi atau jika terkena sinar matahari. (Dimas 2013).


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan di lingkungan SMA Negeri 5 Denpasar serta di ruang laboratorium. Penelitian ini penulis lakukan pada tanggal 20 Oktober 201530 Oktober 2015.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi yang penulis gunakan adalah populasi nyamuk yang penulis dapatkan secara acak di sekitar belakang kelas di SMP NEGERI 4 Denpasar. Sampel nyamuk yang digunakan yaitu sebanyak 20 ekor nyamuk. Penulis menangkap nyamuk dengan menggunakan jaring dan dikumpulkan dalam dua toples. Setiap toples penulis bagi sama rata menjadi 10 ekor nyamuk untuk perlakuan 1 dan perlakuan 2.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel Kontrol : Jumlah limbah kulit jeruk dan jumlah air
Variabel Bebas : Teknik pengolahan ekstrak limbah kulit jeruk Bali
Variabel Respon : Waktu mati nyamuk
3.4 Jenis Data dan Sumber Data
3.4.1 Jenis Data
Berdasarkan hasil dari eksperimen serta studi dari website seluruh data dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif dan kualitatif atau memaparkan hasil penelitian yang diperoleh baik itu dari eksperimen maupun dari observasi.

3.4.2 Sumber Data
Data dan sumber data diperoleh melalui data primer dan data sekunder.
Data primer : data yang diperoleh melalui observasi atau pengamatan.
Data sekunder : data yang diperoleh melalui studi kepustakaan.
3.5 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang diperlukan penulis dalam melalukan eksperimen ini, yaitu :
a. Bahan
1.             Kulit jeruk bali total 10 gram
2.             Air total 160 ml
3.             Nyamuk total 20 ekor

b. Alat

1.             Dasar statif (1 buah)
2.             Kaki statif (1 buah)
3.             Batang statif pendek (1 buah)
4.             Batang statif panjang (1 buah)
5.             Selang silikon (1 buah)
6.             Penyambung selang (1 buah)
7.             Klem Universal (1 buah)
8.             Klem Bosshead (1 buah)
9.             Labu Erlenmayer (1 buah)
10.         Sumbat karet besar 1 lubang (1 buah)
11.         Bak plastik (1 buah)
12.         Gelas beaker (1 buah)
13.         Pembakar spiritus (1 buah)
14.   Alu dan lumpang (1 buah)
15.   Pisau (1 buah)
3.6 Cara Kerja
A. Perlakuan 1
 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Merangkai alat destilasi
2. Potong kecil 5 gr limbah kulit jeruk Bali, masukkan ke dalam labu erlenmeyer dan campurkan air 80 ml
3. Letakkan di labu erlenmeyer, nyalakan lampu spirtus
4. Setelah 30 menit, ekstrak kulit jeruk Bali didapatkan
5. Masukkan ekstrak ke botol semprot
B. Perlakuan 2
1. Kulit jeruk Bali, dipotong kecil kecil
2. Masukkan 5 gr kulit jeruk pada lumpang
3. Masukkan air 80 ml ke dalam lumpang
 4. Lalu ditumbuk hingga mengeluarkan ekstrak.
5. Masukan ekstrak ke dalam labu erlenmeyer, untuk didestilasi
6. Setelah 40 menit, masukkan ke dalam botol semprot.     
3.7  Metode Pengumpulan Data
3.2.1    Metode Observasi
Metode observasi dilakukan di SMPN 4 Denpasar untuk mengetahui adanya nyamuk di lingkungan sekolah.
3.2.2    Metode Kajian Pustaka
Metode ini dilakukan dengan mengambil data relevan dari internet mengenai nyamuk, limbah kulit jeruk Bali, obat pembasmi nyamuk, dan teknik destilasi.
3.2.3    Metode Eksperimen
Metode yang dilakukan adalah penyulingan dengan air (water distillation) untuk mendapatkan ekstrak dari kulit jeruk Bali.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Observasi
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, di lingkungan SMP Negeri 4 Denpasar masih terdapat banyak nyamuk, terutama pada belakang kelas yang gelap dan terlihat tidak terawat. Dari pengamatan tersebut penulis ingin membasmi nyamuk yang berada di lingkungan, namun penulis tidak ingin menggunakan bahan kimia seperti obat nyamuk yang banyak dijual di pasaran untuk membasmi nyamuk. Penulis ingin menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan agar tidak membuat menimbulkan dampak negatif.
Limbah kulit jeruk bali menjadi pilihan penulis sebagai bahan alternatif alami untuk membasmi nyamuk. Kulit jeruk Bali memiliki kandungan asam limonen yang dapat membasmi nyamuk. Selain itu, kulit jeruk Bali juga ramah lingkungan sehingga tidak memiliki efek samping dalam penggunaannya. Maka dari itu, penulis ingin menggunakan limbah kulit jeruk Bali sebagai bahan alternatif alami untuk membasmi nyamuk.
4.2 Hasil Eksperimen
Hasil eksperimen penggunaan limbah kulit jeruk Bali sebagai pembasmi nyamuk dengan dua perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Perlakuan
Respon ketika disemprotkan
Respon setelah 3 menit
Respon setelah 7 menit
1.
P-0
-
-
-
2.
P-1
Berterbangan panik
Semua nyamuk mati
Semua nyamuk mati
3.
P-2
Berterbangan panik
1 Nyamuk mati
Semua nyamuk mati
Keterangan :
- = Tidak ada respon
P-0 = Tanpa perlakuan
P-1 = Dengan menggunakan limbah kulit jeruk Bali yang di potong kecil, kemudian di destilasi dengan dosis sebanyak 5 gr kulit jeruk dan 80 ml air. Setelah itu di semprotkan ke 10 ekor nyamuk.
P-2 = Dengan menggunakan 5 gr limbah kulit jeruk Bali yang di potong kecil kemudian di tumbuk dengan 80 ml air, hasil tumbukan di destilasi. Setelah itu di semprotkan ke 10 ekor nyamuk.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada perlakuan 0 tidak ada respon. Pada perlakuan 1 ketika nyamuk disemprotkan nyamuk terlihat panik, dan kemudian nyamuk mati dan pada perlakuan 2 ketika nyamuk disemprotkan nyamuk terlihat panik, lalu setelah 3 menit 1 nyamuk mati dan setelah 7 menit semua nyamuk mati.  Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang paling ampuh adalah perlakuan 1 dengan menggunakan 5 gr kulit jeruk dengan 80 ml air yang di destilasi selama 30 menit, dimana nyamuk mati pada menit ke 3.

4.3 Pengaruh Kulit Jeruk Bali Dalam Membasmi Nyamuk
Kulit jeruk Bali terbukti dapat digunakan membasmi nyamuk karena kulit jeruk Bali mengandung asam limonen yang tidak disukai bangsa nyamuk. Berdasarkan hasil experimen diatas dapat diketahui bahwa ekstrak limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk. Karena kulit jeruk Bali memiliki kandungan asam limonen yang beberapa kali lebih banyak dibandingkan jeruk lainnya. Ini karena kulit jeruk Bali lebih tebal dibanding jeruk lainnya (Anonim, 2013).
Ekstrak yang didapatkan berwarna   hijau kecoklatan. Memiliki aroma jeruk pekat yang khas. Ekstrak ini disemprotkan ke nyamuk dan kemudian dihitung waktu matinya nyamuk. Pada perlakuan 1 nyamuk mati setelah 3 menit.
4.4 Perbedaan Perlakuan Ekstrak Limbah Kulit Jeruk Bali
Pada penelitian ini menggunakan P-0, P-1, dan P-2. Pada P-0 tanpa adanya perlakuan nyamuk tidak merespon. Pada P-1 yang dimana ketika nyamuk disemprotkan nyamuk mulai berterbangan panik, dan setelah 3 menit nyamuk mati. Pada P-2 ketika disemprotkan nyamuk berterbangan panik, lalu setelah 3 menit 1 nyamuk mati dan setelah 7 menit semua nyamuk mati. Perlakuan yang paling ampuh adalah perlakuan 1 karena nyamuk lebih cepat mati dibanding perlakuan 0 dan 2.
Perlakuan 1 lebih cepat membasmi nyamuk karena pada perlakuan 2 pada proses pengolahan penulis menumbuk terlebih dahulu kulit jeruk Bali lalu kemudian dilanjutkan pada proses destilasi. Penulis menduga bahwa saat ditumbuk kandungan asam limonen sudah menguap atau terkontaminasi dengan udara, sehingga saat proses destilasi kandungan asam limonen lebih sedikit dibanding perlakuan 1.

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan 
1.    Berdasarakan hasil eksperimen diketahui bahwa limbah kulit jeruk Bali berpengaruh dalam membasmi nyamuk karena kulit jeruk Bali mengandung asam limonen yang tidak disukai nyamuk sehingga dapat dimanfaatkan untuk membasmi nyamuk
2.    Perbedaan pada perlakuan 1 dengan perlakuan 2 adalah pada perlakuan 1 lebih cepat bereaksi dalam membasmi jentik nyamuk dibanding dengan perlakuan  2 lebih lama bereaksi dalam membasmi nyamuk, karena pada proses destilasi asam limonen lebih banyak ada pada perlakuan 1.
5.2 Saran
Saran-saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Diharapkan kepada masyarakat agar menggunakan kulit jeruk Bali untuk membasmi nyamuk di sekitar rumah.
2.      Kepada pembaca yang tertarik dengan penelitian ini diharapkan untuk meneliti lebih lanjut tentang kegunaan kulit jeruk Bali sehingga dapat diketahui lebih jelas manfaat ekstrak serta kandungan kulit jeruk Bali untuk membasmi  nyamuk.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Nyamuk. id.wikipedia.org/
Anonim.2013. Kulit Jeruk Bali. nasional.sindonews.com/
Anonim.2013. Teknik Destilasi. id.wikipedia.org/
Filipsson.1998. Asam limonen. devinarisagita.wordpress.com/
Aulia Rahim. 2011. Proses Destilasi. http://chemistry-ku.blogspot.com/
Iqmal Tahir. 2011. Bahaya Obat Nyamuk. http://iqmaltahir.wordpress.com/

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
KETUA
Nama                                 : Kadek Haripriya Dewi
TTL                                   : Denpasar Selatan, 7 Pebruari 1999
Alamat                              : Jalan Gelogor Indah 1A/12, Gelogor Carik, Pemogan
No. Sekolah                       : 0361 422486
No. Hp.                             : 085792968850
E-mail                                : kadekharipriyadewi@yahoo.com
Karya Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1.      Pemanfaatan Ekstrak Daun Sirih Sebagai Bahan Alternatif Alami yang Ramah Lingkungan Untuk Membasmi Jentik Nyamuk
2.      Bahaya Mengkonsumsi Makanan Cepat Saji atau Junk Food
3.      Mensiasati Emotional Quotiens Remaja yang Rendah Dengan Ajaran Yoga Kota Denpasar
4.      Pemanfaatan Daun Sirih Untuk Mengusir Semut
5.      Menanggulangi Remaja Dengan Kebiasan Buruk Merokok Guna Terciptanya Siswa yang Berbudi Pekerti Luhur
6.      Pengolahan Limbah Bunga Kamboja Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Aromaterapi
7.      Pengenalan Sokasih (Selokan Bersih) Di SMP Negeri 4 Denpasar Guna Melahirkan Lingkungan yang Sehat
8.      Penerapan Budaya Lokal Kota Denpasar Dengan Acara Pesta Kesenian Bali
ANGGOTA
Nama                                 : Rivandy Rahman Idris
TTL                                   : Denpasar, 14 Pebruari 2000
Alamat                              : Jalan Taman Mulia Jimbaran Gg Mawar / 84
No. Sekolah                       : 0361 422486
No. Hp.                             : 083119935172
E-mail                                : r_rahman_i@yahoo.com
Karya Tulis Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1.      Usulan Budi Pekerti Dalam Menciptakan Siswa Generasi Emas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ATASI PERMASALAHAN SAMPAH DI PEDESAAN BALI DENGAN PROGRAM KOPERASI SAMPAH BERKONSEP BANK SAMPAH