MENGADAPTASI UPAYA MASYARAKAT PERU DALAM MENGATASI KETERSEDIAAN AIR : MEMANEN AIR DARI KABUT PEGUNUNGAN


LOMBA ESSAI ILMIAH
TINGKAT SMP SE-BALI TAHUN 2014


MENGADAPTASI UPAYA MASYARAKAT PERU
DALAM MENGATASI KETERSEDIAAN AIR :
MEMANEN AIR DARI KABUT PEGUNUNGAN

Diusulkan Oleh :
KADEK HARIPRIYA DEWI



SMP NEGERI 4 DENPASAR
KOTA DENPASAR

TAHUN 2014
MENGADAPTASI UPAYA MASYARAKAT PERU DENGAN MEMANEN AIR DARI KABUT PEGUNUNGAN DALAM MENGATASI PERMASALAHAN KETERSEDIAAN AIR
DI DAERAH DATARAN TINGGI BALI

Oleh : Kadek Haripriya Dewi
SMP NEGERI 4 DENPASAR

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat berupa seperti awan, hujan, sungai, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air merupakan sumber kehidupan bagi mahluk hidup di seluruh dunia. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan air sangat banyak dibutuhkan oleh masyarakat, seperti : minum, mandi, mencuci perabotan, menyiram tanaman, dan lainnya. Tanpa adanya air masyarakat akan susah menjalani kehidupan sehari-harinya
Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di Bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan Bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. Indonesia bahkan telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Anonim, 2014).
Air dapat dengan mudah ditemui di sekitar masyarakat terutama di perkotaan. Sumber air yang digunakan masyarakat pada umumnya adalah berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). PDAM merupakan salah satu unit usaha milik daerah, yang yang bergerak dalam distribusi air bersih bagi masyarakat umum. PDAM terdapat di setiap provinsi, kabupaten, dan kotamadya di seluruh Indonesia. PDAM merupakan perusahaan daerah sebagai sarana penyedia air bersih yang diawasi dan dimonitor oleh aparataparat eksekutif maupun legislatif daerah (Anonim, 2013). Air PDAM tidak mencapai daerah-daerah pedesaan yang jauh seperti dataran tinggi di Bali, terutama disaat musim kemarau. Dataran tinggi di Bali terutama yang dekat dengan daerah gunung mengalami krisis air selain karena air PDAM tidak mencapai daerah tersebut,dapat  karena hujan jarang turun di saat musim kemarau dan sumber air berada jauh di bawah. Beberapa daerah dataran tinggi di Bali yang mengalami krisis air adalah kecamatan Kubu, kecamatan Abang di kabupaten Karangasem serta kecamatan Kintamani Bangli  Bangli dan beberapa daerah lainnya lainnya.
Bupati Karangasem I Wayan Geredeg (2011)  berkata bahwa, pada musim kemarau sebanyak 70% masyarakat di  kecamatan Kubu mengalami krisis air. Kecamatan Kubu terletak di kaki Gunung Agung, sehingga membuat daerah tersebut susah untuk mendapatkan sumber air. Maka dari itu, masyarakat biasanya membeli air-air dari truk tangki  atau lebih memilih untuk berjalan kaki mencari sumber mata air ke perkotaan yang terbilang cukup jauh. Idealnya untuk memenuhi keperluan air, warga membutuhkan enam unit mobil tangki, namun hanya tersedia satu unit mobil tangki, yang mengangkut 6.000 liter air dan habis dalam waktu 25 hari yang digunakan dengan hemat. Hal ini tentu menyulitkan masyarakat untuk memebuhi kebutuhannya akan keperluan air. Melihat kondisi ini, pemerintah kabupaten Karangasem memberikan pelayanan air bersih secara cuma-cuma kepada masyarakat secara bergilir. Namun, jumlah air yang diberikan juga masih kurang mencukupi kebutuhan masyarakat. Kejadian serupa juga terjadi di daerah Kintamani, dimana masyarakat belum dapat memenuhi kebutuhan air secara menyeluruh.
Daerah dataran tinggi di Bali terutama Karangasem dan Kintamani memimiliki banyak kabut gunung. Kabut yang terdapat di daerah dataran Tinggi Kabupaten Karangasem ini berasal dari gunung Agung, sedangkan kabut yang terdapat di Kintamani berasal dari Gunung Batur. Kabut(Fog) adalah awan lembab yang terjadi pada permukaan bumi yang mengandung jutaan butiran – butiran air yang sangat kecil dan melayang - layang di udara. Kabut mirip dengan awan, perbedaannya, awan tidak menyentuh permukaan bumi, sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi. Sama dengan awan, kabut terdiri dari tetesan-tetesan air yang sangat halus namun pada kondisi tertentu dapat disertai kristal es. Tetesan-tetesan air akan menghamburkan semua sinar matahari yang masuk ke dalam kabut ini, sehingga sukar sekali melihatnya (Arianto, 2008).
Kabut terdiri dari beberapa macam, yakni.
1. Kabut adveksi (Advection Fog)
Kabut adveksi terbentuk karena adanya adveksi udara basah yang melalui suatu permukaan yang lebih dingin. Kabut adveksi biasanya terjadi dalam musim dingin, yaitu pada waktu daratan lebih dingin dari lautan. Angin yang bertiup dari laut ke daratan membawa serta udara yang jenuh dengan uap air. Setelah sampai di daratan, suhu udara ini turun, sehingga sebagian dari uap airnya mengembun. Terbentuklah kabut yang disebut kabut adveksi.
2. Kabut Radiasi                  
Kabut Radiasi (Radiation Fog) terbentuk karena adanya pendinginan permukaan bumi yang disebabkan oleh radiasi bumi pada malam hari. Karena udara merupakan penghantar yang kurang baik, maka pendinginan udara hanya setebal beberapa centimeter dari permukaan bumi. Kabut Radiasi tidak hanya terjadi pada musim dingin saja.
Ada beberapa kondisi yang diperlukan untuk terbentuknya kabut radiasi, yaitu :
a)      Temperatur titik embun yang cukup tinggi.
b)      Adanya proses pendinginan yang cukup memadai pada malam hari.
c)      Adanya turbulansi dan angin yang lemah.
3. Kabut Frontal
Kabut Frontal terbentuk melalui suatu pertemuan antara dua masa udara yang berbeda temperaturnya. Kabut ini terbentuk ketika hujan turun dari masa udara yang hangat ke dalam masa udara yang dingin tempat uap air menguap. Dengan demikian akan menyebabkan uap air pada udara dingin melampaui titik jenuh.
4. Kabut Gunung
Kabut gunung terbentuk ketika uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung. Udara dingin bergerak ke atas lereng sampai tidak sanggup menahan uap air. Titik-titik kabut kemudian terbentuk di sepanjang lereng gunung.
Keadaan kekurangan air di daerah dataran tinggi di Bali hampir sama dengan keadaan kekurangan air di desa Bellavista, Lima, Peru. Setiap musim dingin pada bulan Juni sampai November desa Bellavista ditutupi kabut tebal yang berasal dari Lautan Pasifik. Masyarakat desa Bellavista sering mengalami kekurangan air karena air hujan jarang turun di daerah tersebut. Untuk mencukup kebutuhan air di desa tersebut warga desa biasanya membeli air dari truk-truk tanki yang harus dipasok dari Danau Andes yang jauh. Kemudian muncul ide dari konservasionis Jerman dan ahli biologi Kai Tiedemann dan Anne Lummerich untuk membantu masyarakat desa Bellavista mengenai permasalahan kekurangan air dengan mendirikan jaring khusus yang dapat memanen air dari udara untuk memanen air dari kabut tersebut.
Ketika melaksanakan proyek memanen kabut yang dimulai pada tahun 2006, masyarakat desa membawa 43 kilogram kantong pasir untuk menstabilkan jaring dan membangun kolam serta tanki bata untuk mengumpulkan air hasil dari memanen kabut. Cara masyarakat desa Bellavista untuk memanen air dari kabut tidaklah rumit. Masyarakat bersama-sama membuat jaring besar yang digunakan untuk memanen air. Jaring ini terbuat dari anyaman plastik yang disambungkan ke pipa-pipa kecil dengan tinggi 4 meter dan lebar 8 meter. Jaring ini tegak lurus menghadap ke arah angin. Prinsip kerjanya adalah alat ini menangkap butiran-butiran air yang terkandung dalam kabut dan mengalirkan air tersebut ke tabung penyimpanan yang sudah disiapkan (Fields, 2009).
Memanen kabut tidak memegang prinsip kondensasi. Ketika kabut  menyentuh permukaan jaring yang dingin maka akan berubah menjadi cairan. Setiap angin bertiup membawa kabut tebal, tetesan air menempel pada jaring plastik. karena banyaknya tetesan air yang menempel, air tersebut mengumpul dan karena pengaruh gravitasi air tersebut mengalir  melalui pipa-pipa kecil ke dalam dua tangki bata dan kolam-kolam yang telah dibangun penduduk desa. Satu buah jaring dapat memanen air lebih dari 150 galon air atau 568 liter. Kemudian pada tahun 2007, Lummerich dan Tiedemann mulai merancang jaring baru dengan beberapa lapisan jaring untuk menangkap angin bergeser. Desain baru ini dapat mengumpulkan lebih dari 600 galon air atau 2.271 liter tiap harinya. Kabut yang dapat dipanen hanyalah kabut yang mengalami pembentukan alami, bukan kabut atau asap dari pabrik-pabrik industri yang mengandung banyak bahan kimia berbahaya (Fields, 2009).
Proyek memanen kabut ini sudah dikembangkan oleh mahasiswa UGM untuk mengatasi kekeringan di kota Semarang. Melihat dari suksesnya mengatasi permasalahan air di Peru dengan menggunakan Kabut , maka dari itu Proyek memanen ini dapat pula diterapkan di daerah dataran tinggi di Bali yang mengalami kekurangan air serta memiliki banyak kabut tebal. Kecamatan Kubu, Karangasem salah satunya. Kecamatan Kubu sering mengalami kekurangan air saat musim kemarau tiba. Kecamatan Kubu sering ditutupi kabut gunung, kabut ini dapat dipanen dengan menggunakan alat jaring plastik seperti yang diterapkan di Peru. Air hasil panen kabut dapat digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, memasak, dan minum. Begitu juga di daerah Kintamani yang cukup sering mengalami kabut. Daerah ini sangat cocok untuk menerapkan sistem tersebut yakni memanen air dari kabut. Terlebih daerah dataran tinggi yang ada di Bali memiliki banyak kemiripin dengan daerah dataran Tinggi yang ada di Peru yang sudah berhasil menerapkan sistem memanen kabut dalam memenuhi kebutuhan air mereka.
Penerapan memanen air dengan menggunakan kabut tersebut dapat menjadi referensi baru bagi daerah- daerah dataran tinggi di Bali yang mengalami permasalahan ketersediaan air. Cara yang diperlukan sangatlah mudah dan bahan bahan yang digunakan juga sangat mudah untuk didapatkan, sehingga ada baiknya metode ini dapat dijadikan pertimbangan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air. Masyarakat bali yang ada di dataran tinggi dapat saling bekerjasama dalam merancang metode tersebut. Kerjasama dengan pemerintah juga sangat diperlukan  terutama dalam rangka mensosialisasikan program untuk mengadaptasi cara masyarakat Peru dalam memperoleh air dari kabut. Setelah diadakan sosialisasi juga perlu diadakan pelatihan bagi masyarakat sehingga masyarakat diharapkan dapat memperoleh hasil yang maksimal terhadap pemenuhan air dengan menggunakan metode memanen air dari kabut seperti yang sudah dilakukan oleh masyarakat Peru.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. PDAM. http://id.wikipedia.org/wiki/PDAM
Anonim. 2014 Ternyata Beginilah Cara Orang Peru Memanen Air Dari Kabut. http://anekainfounik.blogspot.com/2014/01/ternyata-beginilah-cara-orang-peru.html#.U4nyZXKumRe
Anonim. 2013. Daerah Kritis Karangasem Kekurangan Air. http://www.antarabali.com/print/2832/daerah-kritis-karangasem-kekurangan-air
Helen Fields. 2009. Fog Chatchers Bring Water To Parched Villages. National Geographic Magazine
Hery Indrawan. 2012. Kekurangan Air Ancaman Krisis Pangan Di Bali. http://heryindrawan.wordpress.com/2012/10/12/kekurangan-air-ancaman-krisis-pangan-di-bali/
Tresno Setadi. 2013. Pasokan Air PDAM Terbatas. http://satelitpost.co/2013/09/19/pasokan-air-pdam-terbatas/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ATASI PERMASALAHAN SAMPAH DI PEDESAAN BALI DENGAN PROGRAM KOPERASI SAMPAH BERKONSEP BANK SAMPAH