PENERAPAN PUASA EKADASI MENURUT AJARAN WEDA BAGI UMAT HINDU DI BALI
PENERAPAN PUASA EKADASI MENURUT AJARAN WEDA
OLEH
:
KADEK
HARIPRIYA DEWI
SMPN 4 DENPASAR
KOTA
DENPASAR
TAHUN
2014
|
LEMBAR
PENGESAHAN
PENERAPAN PUASA
EKADASI MENURUT AJARAN WEDA
BAGI UMAT HINDU DI BALI
BAGI UMAT HINDU DI BALI
Oleh
:
Kadek
Haripriya Dewi
|
|||
|
|||
ABSTRAKSI
Penerapan Puasa Ekadasi Menurut
Ajaran Weda
Bagi Umat Hindu di Bali
Bagi Umat Hindu di Bali
Kadek Haripriya Dewi
Pelaksanaan hari puasa bagi umat Hindu di Bali belum
dikenal luas. Salah satu hari raya yang melaksanakan puasa adalah hari raya
Nyepi. Pada hari raya Nyepi umatnya diharapkna untuk menahan nafsu. Selain hari
raya nyepi, menurut kitab Weda salah satu hari puasa yang belum dikenal luas
masyarakat adalah hari puasa Ekadasi. Ekadasi adalah hari puasa yang datang dua
kali dalam sebulan. Pada hari ini umatnya dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi
biji-bijian.
Penelitian ini dilakukan di Asrham Sri Sri Krshna
Balaram Ashram, Padanggalak serta SMP Negeri 4 Denpasar pada tanggal 6 November
2014 – 10 November 2014. Pengumpulan data menggunakan metode kajian pustaka,
metode wawancara, dan metode kuesioner.
Puasa Ekadasi adalah hari dimana umatnya dianjurkan
menjalani puasa memakan biji-bijian.
Pada hari ini juga memberi manfaat yang banyak bagi kesehatan jasmani dan
rohani. Salah satunya yakni dapat memperlancar kesehatan pencernaan karena pada
hari Ekadasi dianjurkan mengkonsumsi umbi-umbian dan buah-buahan yang
mengandung banyak serat. Maka dari itu, diharapkan agar umat hindu di Bali
melaksanakan hari suci Ekadasi.
Kata Kunci : Ekadasi, Puasa, Hindu.
KATA PENGANTAR
Berkat
berkah dan rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan dengan dukungan
dari guru pembimbing, orang tua dan teman- teman, maka terciptalah sebuah karya tulis
ilmiah yang berjudul
“Penerapan
Puasa Ekadasi Menurut Ajaran Weda Bagi Umat Hindu di Bali”.
Penulis menyadari karya tulis ini tidak sepenuhnya sempurna
karena pengetahuan yang penulis miliki masih terbatas. Namun rasa bangga masih penulis rasakan karena telah berhasil menyelesaikan Karya
tulis ilmiah ini dengan kemampuan yang penulis miliki.
Di
kesempatan yang baik ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini dalam waktu yang
sudah di tetapkan dan ketentuan yang sudah berlaku. Disamping itu semua, penulis mengharapkan karya tulis ilmiah yang telah dibuat ini diberikan kritik dan saran yang sehat sehingga
memotivasi penulis
dalam membuat karya
tulis ilmiah.
Demikian
sepatah kata yang dapat penulis sampaikan, dan jika ada kesalahan yang
tersirat maupun tersurat
mohon dimaafkan. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terimakasih.
Denpasar,
10 November 2014
Penulis
DAFTAR ISI
COVER ................................................................................................................ i
PENGESAHAN .................................................................................................. ii
ABSTRAKSI................................................................................................... .... iii
KATA PENGANTAR..................................................................................... .... iv
DAFTAR ISI................................................................................................... .... v
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... .... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. .... 1
1.2
Rumusan Masalah........................................................................... .... 2
1.3
Tujuan Penelitian............................................................................ .... 2
1.4
Manfaat Penelitian ............................................................................. 2
1.5 Batasan Masalah............................................................................. .... 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4
2.1 Puasa Bagi
Umat Hindu di Bali.......................................................... 4
2.2 Ekadasi ……………………………………....................................... 5
2.3 Sumber-sumber Puasa Ekadasi ........................................................... 7
2.4 Manfaat Puasa Ekadasi ...................................................................... 9
BAB
III METODE PENELITIAN ..................................................................... 11
3.1 SETTING PENELITIAN................................................................. 11
A.
TEMPAT PENELITIAN....................................................... .... 11
B. WAKTU
PENELITIAN ......................................................... 11
3.2
METODE PENGUMPULAN DATA.............................................. 11
3.3
DATA DAN SUMBER DATA ....................................................... 11
3.4 METODE ANALISA DATA........................................................... 12
BAB
IV PEMBAHASAN................................................................................... 13
4.1 Hasil.......................................................................................................... 13
4.2 Pembahasan
......................................................................................... 14
4.3 Manfaat
Melaksanakan Puasa Ekadasi ................................................ 15
4.4 Cara Mengenalkan Hari Ekadasi Bagi
Umat Hindu di Bali ................ 17
BAB
V PENUTUP............................................................................................... 18
5.1 Simpulan
.................................................................................................. 18
5.2 Saran ......................................................................................................... 18
DAFTAR
PUSTAKA ..................................................................................... 19
LAMPIRAN-
LAMPIRAN................................................................................. 20
DAFTAR
RIWAYAT HIDUP PENULIS ..................................................... 22
DAFTAR
RIWAYAT HIDUP PEMBINA ................................................... 23
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bali
terkenal akan adat istiadat dan budayanya, baik itu tari tradisional, nyanyian
Bali, hingga pelaksanaan upacara di Bali yang diekspos dunia. Mayoritas agama
di Bali adalah agama Hindu, sehingga Bali identik dengan keagamaannya dan
upacara-upacara yadnya. Di tanah dewata ini ada banyak sekali pelaksanaan
hari-hari suci keagamaan. Pelaksanaan-pelaksanaan
hari suci di Bali berdasarkan pada kitab suci agama Hindu, yakni kitab Weda.
Yang dimana dapat dibagi lagi berdasarkan kalender saka dan kalender Bali.
Salah satu pelaksanaan hari suci agama Hindu di Bali yang sangat dikenal
masyarakat yakni adalah hari raya Nyepi. Pada saat nyepi umat Hindu di haruskan
untuk melakukan puasa. Nyepi ini merupakan salah satu hari suci agama Hindu
untuk melaksanakan puasa yang dilaksanakan setahun sekali. Puasa artinya
menahan nafsu atau keinginan. Puasa haru dilakanakan berdasarkan keyakinan yang
kuat. Sebagaimana yang diketahui bersama puasa dapat memberikan banyak manfaat,
seperti : meningkatkan kadar kecerdasan otak, meningkatkan kesehatan jantung
dan pembuluh darah, menurunkan kadar kolesterol, dapat berpikir lebih tajam dan
kreatif, mengontrol berat badan, menyehatkan ginjal, dan lainnya (Anonim,
2014). Selain hari raya Nyepi, masih banyak hari raya yang mengharuskan umat
Hindu melakukan puasa.
Terdapat
banyak sekali puasa menurut kitab-kitab suci agama Hindu. Pada setiap
perayaan-perayaan yang berdasarkan Weda biasanya akan dilaksanakan puasa. Baik
itu setengah hari maupun total. Salah satu puasa yang dilaksanakan menurut
kitab suci agama Hindu oleh pemeluk Weda di dunia yakni puasa biji-bijian atau
Ekadasi. Ekadasi adalah hari dimana umat Hindu tidak diperkenankan untuk
berpuasa total, namun apabila tidak kuat maka dapat dengan tidak mengkonsumsi
biji-bijian. Puasa Ekadasi memberikan banyak sekali manfaat bagi masyarakat,
baik itu jasmani maupun rohani. Salah satu manfaatnya yakni dapat memperlancar
pencernaan karena pada puasa Ekadasi umatnya dapat mengkonsumsi umbi-umbian dan
buah-buhan yang mengandung banyak serat yang tentunya memiliki banyak manfaat
bagi tubuh. Namun, pelaksanaan puasa Ekadasi masih belum begitu dikenal luas
oleh umat Hindu di Bali. Padahal pelaksamaam puasa Ekadasi ini sangat penting.
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka dari itu, penulis tertarik untuk mengangkat karya
tulis dengan judul “Penerapan Puasa
Ekadasi Menurut Ajaran Weda Bagi Umat Hindu di Bali”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yakni:
a.
Bagaimanakah
penerapan puasa Ekadasi bagi umat Hindu di Bali menurut kitab suci agama Hindu
?
b.
Apa sajakah
manfaat dari penerapan puasa Ekadasi bagi umat Hindu di Bali menurut kitab suci
agama hindu ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan dalam penelitian ini, yakni :
a.
Untuk mengetahui
bagaimana penerapan puasa Ekadasi bagi umat Hindu di Bali menurut kitab suci
agama Hindu.
b.
Untuk mengetahui
apa sajakah manfaat yang diberikan dari penerapaan puasa Ekadasi bagi umat
Hindu di Bali menurut kitab suci agama Hindu.
1.4 Manfaat Penelitian
a.
Memberi wawasan
mengenai penerapan puasa Ekadasi bagi umat Hindu di Bali.
b.
Memberi wawasan
mengenai manfaat yang diberikan dari penerapan puasa Ekadasi bagi umat Hindu di
Bali menurut kitab suci agama Hindu.
1.5 Batasan Masalah
a.
Pengertian hari
Ekadasi serta sumber-sumbernya.
b.
Manfaat
pelaksanaan hari Ekadasi.
c.
Pentingnya
pelaksanaan hari Ekadasi.
d.
Pengenalan hari
Ekadasi bagi umat Hindu di Bali.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Puasa Bagi Umat Hindu di Bali
Puasa berasal
dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa, di mana Upa artinya
dekat atau mendekat , dan Wasa artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa.
Upawasa atau puasa artinya mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa. Jadi
sebenarnya Islam Indonesia telah meminjam istilah puasa dari Hindu sebab puasa
dalam bahasa Arab adalah shaum, di
Jawa dan Sunda istilahnya menjadi syiam.
Jadi, puasa dalam Hindu merupakan bagian dari tapa. Kata tapa mempunyai arti
pengendalian terhadap nafsu: nafsu makan, minum, sex serta hiburan. Aplikasi
daripada tapa berbentuk brata yaitu pengendalian indria.
Mayoritas
masyarakat di Tanah Dewata memiliki kepercayaan Hindu. Pada ajaran agama Hindu
di Bali ada beberapa pelaksanaan hari raya yang mengharuskan umatnya
melaksanakan puasa, yakni :
Jatuh pada panglong ping 14 Tilem ke pitu, yaitu
sehari sebelum tilem. Contoh: Untuk yang jatuh pada Hari Rabu, tanggal 21 Januari 2004.
Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit pada
hari Rabu tanggal 21 Januari 2004 sampai dengan matahari terbenam tanggal 22
Januari 2004.
Jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa. Puasa
total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar
keesokan harinya (ngembak geni).
- Purnama dan tilem,
puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga
fajar keesokan harinya.
- Puasa untuk menebus
dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga: Parasara Dharmasastra,
sebagai “Tapta krcchra vratam” adalah puasa selama tiga hari
dengan tingkatan puasa:
1. Minum
air hangat saja.
2. Susu
hangat saja.
3. Mentega
murni saja.
4. Tanpa
makan dan minum sama sekali.
Selain itu, masih banyak puasa yang dilaksanakan
umat Hindu di Bali, seperti puasa untuk menebus jenis dosa yang dilakukan:
membunuh binatang, membunuh/ mencederai sapi, hubungan kelamin terlarang
(zina), makan makanan terlarang, membunuh manusia, dan lainnya.
(Sudarma, 2011).
2.2 Ekadasi
Dalam
kitab suci Veda sebenarnya terdapat banyak aturan-aturan yang membahas tentang
puasa dan jenis-jenisnya. Puasa tidak hanya sekedar latihan pengendalian diri,
tetapi juga ditujukan untuk memperingati momen-momen tertentu. Bahkan menurut
beberapa sumber, pada dasarnya puasa menurut Veda juga menghasilkan phala (buah
perbuatan) tertentu yang meskipun dalam banyak sloka-sloka Veda selalu
ditegaskan bahwa kita tidak boleh terikat pada hasil tersebut.
Salah
satu hari untuk melakukan puasa yang paling dikenal dan diterapkan oleh pemeluk
Veda di seluruh dunia adalah puasa Ekadasi. Ekadasi berasal dari kata Eka dan
Dasi. Eka berarti satu dan Dasi yang berasal dari kata Dasa berarti sepuluh. Ekadasi adalah
puasa yang sangat keramat dilaksanakan pada hari ke sebelas dihitung mulai dari
sehari setelah bulan purnama atau bulan mati sebagai hari yang pertama dan lusa
dihitung sebagai hari yang ke dua dan seterusnya hingga hari ke sebelas.
Pada
hari ke sebelas ini umat Hindu dianjurkan untuk melakukan puasa Ekadasi karena
dikatakan puasa Ekadasi ini bila dilaksanakan secara teratur akan dapat
menghilangkan semua dosa dan kebodohan dalam diri manusia sekaligus merubah
nasib hidupnya, bahkan dapat meningkatkan kekuatan batin, hingga ke tingkat
yang paling tinggi yakni tingkatan bhakti kepada Tuhan.
Adapun
makanan yang tidak boleh dikonsumsi pada hari Ekadasi, yakni :
a. Buah
tomat, terung, kembang kol, brokoli, merica bubuk, kayu manis, semangka pahit
(karela), loki, parmal, toroi, kunli, tongkat tambur, bindi (ladies
fingers) dan bunga pisang.
b. Kacang
polong, kacang panjang/buncis dan semua jenis dari kacang-kacangan, termasuk
produk-produk yang dibuat dari kacang-kacangan (misal, papadams, tahu,tempe).
c. Semua
sayuran daun (misal, bayam, selada, kubis) dan bumbu dari daun tumbuh-tumbuhan
seperti daun peterseli, daun ketumbar, seledri dan daun curry.
d. Biji-bijian
(misal, padi-padian millet, barley, kanji, pasta, beras, jagung) dan semua
jenis tepung gandum yang terbuat dari biji-bijian dan kacang-kacangan (misal,
tepung beras, tepung kacang panjang/buncis, tepung urad dahl).
e. Tepung
Kanji dari jagung atau biji-bijian, dan produk-produk terbuat dari atau
bercampur dengan tepung ini seperti soda kue, ragi, minuman tanpa alkohol
tertentu dengan sirup jagung, sejenis pudding, yoghurt-yoghurt tertentu dan kue
puding, variasi-variasi tertentu dari keju krim dan keju cottage, gula gula dan
permen, dan bola-bola tepung ubi kayu.
f. Minyak
yang dibuat dari biji-bijian (misal, minyak jagung, minyak sawi, minyak wijen)
dan produk-produk yang digoreng di dalam minyak-minyak ini (misal,
kacang-kacangan yang digoreng, Kripik kentang dan makanan-makanan kecil yang
digoreng terpisah).
g. Madu,
dan gula gula dibuat dengan tepung kanji.
h. Bumbu-bumbu
tidak boleh digunakan pada Ekadasi : hing (asafetida), biji wijen, cumin,
kelabet, biji sawi, asam jawa, adas, sejenis pohon jahe dan pala.
Menurut
Candrawati dalam bukunya yang berjudul “Ekadasi bimbingan rohani Hindu dalam
berpuasa”, puasa Ekadasi sendiri terdiri dari 26 jenis. Adapun jenis-jenis puasa
Ekadasi tersebut antara lain : Utpanna, Moksada, Saphala, Putrada, Sat-tila, Jaya,
Vijaya, Amalaki, Papamocani, Kamada, Varutini, Mohini, Apara, Nirjala, Yogini, Padma,
Kamika, Putrada, Aja, Parivartini, Indira, Papangkusa, Rama, Haribodini, Padmini,
Parama
Puasa
Ekadasi dilakukan mulai jam 00.00 dan baru berakhir pada hari berikutnya
kira-kira setelah sembahyang pagi saat Brahma Muhurta yang waktunya tidak tentu
dan sesuai dengan perhitungan Jyotisa (Astronomi Veda). Jadi waktu puasa
Ekadasi rata-rata adalah 30 jam lebih.
Bagi
mereka yang tidak kuat menahan lapar atau mungkin karena alasan tertentu dapat
melakukan puasa Ekadasi dengan berpantang memakan biji-bijian dan makanan yang
terbuat dari tepung. Jadi hanya dapat memakan buah-buahan atau umbi-umbian.
Namun pada saat Nirjala Ekadasi, semua penganut Veda dianjurkan untuk melakukan
puasa total, tidak makan dan minum sama sekali
Dalam
satu bulan terdapat 2 hari Ekadasi dan juga 1 atau 2 jadwal puasa selain
Ekadasi dalam rangka memperingati kemunculan Avatara, Rsi/guru kerohanian, atau
acara-acara lainnya. Jadi paling tidak
umat Hindu seharusnya melakukan puasa paling tidak 3 kali dalam satu bulan. Aturan ini juga
terdapat dalam salah satu hadis umat muslim yang menyatakan “Siapa yang
berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun)”.
(Gowinda, 2008).
2.3 Sumber-sumber Puasa Ekadasi
Berikut
merupakan sumber-sumber yang menyebutkan mengenai puasa Ekadasi pada beberapa
kitab suci agama Hindu.
- Kitab
Bhagavad Gita (9.14)
Pada
penjelasannya, “Di dalam pelayanan bhakti terdapat aktivitas-aktivitas
tertentu, seperti pada hari Ekadasi dan pada hari-hari lahir para orang suci
(Rsi).
- Srimad-Bhagavatam (3.27.22)
Pada penjelasannya,
“Pengendalian diri dalam kesadaran Krshna adalah demikian kuatnya sehingga
tidak bisa dibelokkan oleh ilusi yang bagaimanapun menariknya. Seseorang
hendaknya berpuasa pada hari-hari Ekadasi menjelang bulan purnama dan pada
hari-hari munculnya Sri Krshna, Sri Rama, Sri Caitanya Mahaprabhu”.
- Bhagavad
Gita (10.35)
Sri
Krshna bersabda, “Marsanam marga sirso
ham” yang artinya “Di antara semua nama-nama bulan aku adalah Margasira”.
Jadi seseorang yang baru memulai melakukan puasa Ekadasi biasanya mengawali
dalam bulan ini.
- Caitanya-caritamrta
(Adi-lila, 15.9-10)
Dalam
percakapan antara Sri Caitanya dengan ibu Beliau, Saci-devi: “Pada suatu hari
Sri Caitanya Mahaprabhu bersimpuh di kaki ibu Beliau dan mohon kepadanya untuk
memberikan Beliau sesuatu sebagai hadiah. Lalu ibuNya menjawab “Anakku sayang,
aku akan memberikan kepadaMu apapun yang kamu minta. Lalu Beliau bersabda,
“Ibu-Ku Sayang, mohon janganlah makan biji-bijian pada waktu hari Ekadasi”.
Dalam penjelasan Srila Prabhupada menulis. “Dari sejak Beliau masih kanak-kanak,
Sri Caitanya Mahaprabhu telah memperkenalkan sistem pelaksanaan puasa pada hari
Ekadasi.
- Di dalam Bhakti Sandarbha, oleh
Srila Jiva Gosvami, ada suatu kutipan dari Skanda Purana, yang intinya
menyatakan bahwa seseorang yang makan biji-biji pada hari Ekadasi, menjadi
pembunuh ibunya, ayahnya, saudaranya dan guru kerohaniannya, dan bahkan jika
seandainya dia bisa naik ke planet Vaikuntha dia akan jatuh.
- Caitanya Caritamrta – Madya Lila
(20.195.97)
Ekadasi vipluta cad dvadasi paratah
athita
Upaya dvadasim tatra yadioched paramam param
Upaya dvadasim tatra yadioched paramam param
Artinya, Jika seseorang
yang dengan bertekad bulat menginginkan untuk mencapai tempat tinggal
kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krshna, namun lupa melaksanakan Ekadasi,
dia harus melaksanakannya pada hari Dvasai, sebab Ekadasi itu masih tetap
berlaku (bersambung ke hari berikutnya).
(Jayaviira,
1998)
2.4 Manfaat Hari Ekadasi
“Jika seseorang berpuasa pada
hari Ekadasi, Aku akan membakar sampai hangus segala dosa-dosanya dan
mengkaruniakan kepadanya sesuatu tempat di kediaman-Ku. Sebenarnya Ekadasi
adalah hari yang sangat mulia dan memberi manfaat atau hikmah untuk melebur
segala macam dosa apapun, dan hari Ekadasi itu muncul demi untuk memberikan
keuntungan kepada setiap orang (Sri Krishna kepada Arjuna. Bab I)”. Berdasarkan
sumber tersebut, maka bagi umatnya yang melaksanakan puasa Ekadasi akan
mendapatkan karunia berupa pahala dan terhindar dari dosa.
Selain itu, baik cara pengobatan
Barat maupun Ayurveda, kedua-duanya menganjurkan berpuasa untuk
meningkatkan dan mempertahankan kesehatan. Sesungguhnya ahli biologi modern dan
rsi-rsi jaman dahulu berepakat mengatakan bahwa berpuasa itu bia meningkatkan
kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu dengan berpuasa Ekadasi dapat
menghindarkan dari penyakit.
Srila Prabhupada menyatakan dalam Srimad Bhagawatam (1.17.38), “Suatu
negara yang menginginkan untuk memberantas korupsi yang meraja lela bisa
memperkenalkan prinsip-prinip agama dengan cara wajibkanlah mereka berpuasa
selama 2 hari dalam satu bulan. Dari sudut ekonomi berpuasa 2 hari dalam satu
bulan maka negara akan bisa menghemat berton-ton makanan dan sistem itu juga
akan berakibat menguntungkan bagi kesehatan warga negaranya”.
Puasa
secara teratur 2-4 kali sebulan dapat memberikan efek yang sangat positif bagi
kesehatan tubuh manusia. Karena sel tubuh selalu mengalami siklus pembelahan
dan regenerasi, maka puasa yang teratur dapat membantu menghilangkan sel-sel
yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Sel-sel rusak akan termakan dan dirubah
menjadi sumber energi disaat tidak adanya asupan energi dari makanan. Sehingga
dengan adanya regenerasi yang baik pada sel-sel dalam tubuh, maka kemungkinan
adanya risiko tumbuhnya sel tumor atau kanker dapat ditekan. Puasa yang teratur
dalam sebulan juga dapat menekan mal-Kolesterol di dalam tubuh, sehingga
kemungkinan munculnya penyakit jantung koroner dan struk akibat penyempitan
pembuluh darah, pembengkakan jantung dan otak dapat dikurangi (Jati, 2014).
Apabila
masyarakat tidak bisa melakukan puasa total dan mengkonsumsi umbi-umbian serta
buah-buahan, maka akan tetap mendatangnkan manfaat bagi kesehatan karena dengan
mengkonumsi makanan yang mengandung serat dapat melancarkan sistem pencernaan. Selain
itu masih terdapat banyak hasil-hasil penelitian secara ilmiah yang telah
mengungkapkan manfaat puasa secara teratur ini. Dengan melakukan aturan puasa
ini, masyarakat yang melaksanakannya akan mendapatkan manfaat baik rohani
maupun jasmani.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Setting penelitian
a.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Ashram Sri Sri Krishna
Balaram, Padanggalak serta di SMP Negeri 4 Denpasar.
b.Waktu Penelitian
Penelitian serta
penulisan ini penulis lakukan pada tanggal 6
November 2014 – 9 November 2014.
3.2 Metode
Pengumpulan Data
3.2.1 Metode Kajian Pustaka
Metode
ini dilakukan dengan mengambil data relevan dari internet maupun literatur mengenai
hari ekadasi dan kitab suci agama Hindu di Bali.
3.2.2 Metode Wawancara
Metode
yang dilakukan adalah dengan mewawancarai salah satu narasumber mengenai
pelaksanaan hari Ekadasi.
3.2.3 Metode Kuesioner
Metode
yang dilakukan adalah menyebarkan kuesioner sejumlah 10 lembar kepada beberapa
narasumber yang telah melaksanakan ekadasi.
3.3 Data dan Sumber
Data
Data dan sumber
data diperoleh melalui data sekunder
dan data primer.
Data
primer : data yang diperoleh melalui
observasi atau pengamatan.
Data sekunder : data yang diperoleh melalui studi kepustakaan.
3.4 Metode Analisa
Data
Berdasarkan
hasil studi dari website seluruh data dianalisa dengan menggunakan metode
deskriptif dan kualitatif atau pemaparan hasil penelitian sehingga akan
diperoleh hasil dan kesimpulan dalam penelitian ini.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan
kuesioner yang disebar kepada 10 responden, maka didapat hasil sebagai berikut.
No
|
NAMA
|
SOAL 1
|
SOAL
2
|
SOAL
3
|
SOAL
4
|
SOAL
5
|
SOAL
6
|
1
|
Made Suweca
|
Mengetahui
|
Dari pergaulan vaisnawa
|
Dari
tahun 2006 sampai sekarang
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
2
|
Cahyadi
|
Mengetahui
|
Guru
kerohanian
|
8 tahun yang
lalu, sekarang sudah gk pernah
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
3
|
Ketut Kadiasih
|
Mengetahui
|
Dari ajaran
tuhan Sri Krshna
|
2 tahun yang
lalu
|
Ya, awalnya susah
merubah kebiasaan.
|
Ya
|
Ya
|
4.
|
Luh
Sukarmini
|
Mengetahui
|
Dari Ashram
|
Tahun 2006
|
Ya, sering
lupa
|
Ya
|
Ya
|
5.
|
I Dewa Putu
Yasa
|
Mengetahui
|
Dari guru
kerohanian
|
Sejak
mengikuti kesadaran Sri Krsna
|
Ya, pada
awalnya sulit dilaksanakan
|
Ya
|
Tidak
|
6.
|
Ketut
Ekawati
|
Mengetahui
|
Dari guru
kerohanian
|
Sejak
mendapat bimbingan guru kerohanian
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
7.
|
I Made Bagia
|
Mengetahui
|
Dari guru
kerohanian
|
Sejak ikut
kesadaran Sri Krshna
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
8.
|
I Wayan
Suantika
|
Mengetahui
|
Dari tempat
belajar Weda, Ashram Sri Krshna
|
Sejak tahun
2006
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
9.
|
Ratna
Susantiyani
|
Mengetahui
|
Kitab suci
agama Hindu
|
8 tahun yang
lalu
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
10.
|
Komang
Sumayasa
|
Mengetahui
|
Dari Vishnu
Purana (Veda)
|
Sejak Juli
2006
|
Tidak
|
Ya
|
Ya
|
Keterangan :
Soal 1 = Apakah anda
tahu hari Ekadasi dan apa saja yang anda ketahui mengenai hari Ekadasi ?
Soal 2 = Dari mana anda
mengetahui hari Ekadasi ?
Soal 3 = Sejak kapan
anda melaksanakan hari Ekadasi ?
Soal 4 = Adakah kesulitan
dalam melaksanakan hari Ekadasi ?
Soal 5 = Apakah anda
merasakan manfaat dari pelaksanaan hari Ekadasi ?
Soal 6 = Apakah anda
menyarankan agar semua orang melaksanakan hari Ekadasi ?
4.2 Pembahasan
Berdasarkan
hasil diatas puasa Ekadasi adalah hari yang datang lima belas hari sekali yakni
sebelas hari setelah Purnama dan Tilem dimana umatnya dilarang untuk memakan Maha Prasada atau makanan yang sudah
dipersembahkan kepada Tuhan atau Ida
Sang Hyang Widhi Wasa yang berasal dari biji-bijian karena Papa Purusa atau perwujudan dosa masuk ke dalam biji-bijian
tersebut pada hari itu sehingga siapa yang
memakannya akan mendapatkan sebagian dari perwujudan dosa tersebut. Maka dari itu, dianjurkan bagi umatnya untuk
melakukan puasa pada hari itu, namun bila umatnya tidak kuat dapat dengan hanya
puasa makan biji-bijian dan makanan yang terbuat dari tepung dan hanya
mengkonsumsi buah-buahan dan umbi-umbian.
Bagi
mereka yang menjalankan puasa Ekadasi umumnya mengetahui dari kitab suci agama
Hindu, ajaran kesadaran Sri Krshna di Ashram dan dari guru-guru kerohanian.
Pada awalnya, jika baru-baru melakukan puasa Ekadasi maka akan mengalami
beberapa kesulitan seperti : sering lupa akan penanggalan hari Ekadasi, susah
mengubah kebiasaan mengganti makanan pokok dengan umbi-umbian, dan sulit
melaksanakan tanpa ada keyakinan yang kuat. Namun, seiring dengan jalannya
waktu, keyakinan pada diri akan tumbuh dalam menjalankan puasa Ekadasi sehingga
akan terbiasa melaksanakan puasa Ekadasi. Seluruh responden menyatakan merasakan
manfaat yang diberikan dari puasa Ekadasi. Manfaat yang diberikan yakni seperti
yang dinyatakan oleh Ketut Kadiasih, dengan melaksanakan Ekadasi memberi
kebiasaan pada perut ketika lapar tidak hanya harus nasi namun buah dan
umbi-umbian juga tidak masalah dan lambung ringan. Dari sisi kerohanian, hati
merasa lebih damai. Kemudian, Ratna Susiyanti mengatakan manfaat yang didapat
dari puasa Ekadasi dari segi rohani jiwa disucikan, sedangkan dari segi
kesehatan pencernaan lebih sehat karena banyak mengkonsumsi buah yang
mengandung serat dan umbi-umbian.
Berdasarkan
manfaat yang dinyatakan oleh 10 responden, maka hampir seluruh responden
menyarankan agar semua orang terutama umat Hindu di Bali melaksanakan puasa
Ekadasi karena manfaat-manfaat yang diberikan sangat positif, baik dari segi
rohani maupun jasmani.
4.3 Manfaat Melaksanakan Puasa Ekadasi
Melaksanakan
puasa Ekadasi yang berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan
atau Ida Sang Hyang Widhi akan memberikan manfaat yang sangat banyak, yakni :
a.
Manfaat dari
segi Rohani
“Jika seseorang berpuasa pada hari Ekadasi, Aku akan membakar sampai
hangus segala dosa-dosanya dan mengkaruniakan kepadanya sesuatu tempat di
kediaman-Ku. Sebenarnya Ekadasi adalah hari yang sangat mulia dan memberi
manfaat atau hikmah untuk melebur segala macam dosa apapun, dan hari Ekadasi
itu muncul demi untuk memberikan keuntungan kepada setiap orang (Sri Krishna
kepada Arjuna. Bab I)”. Berdasarkan sumber tersebut, maka bagi umatnya
yang melaksanakan puasa Ekadasi akan mendapatkan karunia berupa pahala dan
terhindar dari dosa. Selain itu, berdasarkan hasil kuesioner yang disebar
manfaat secara rohani yang didapat yakni merasakan ketenangan jiwa, hati
menjadi damai, dan pikiran menjadi jernih.
b.
Manfaat dari segi Jasmani
Puasa umumnya adalah menahan segala nafsu yang didasarkan pada
keyakinan yang kuat. Seperti yang dijelaskan pada artikel 12 Manfaat Puasa
(Djati, 2014), manfaat melaksanakan puasa, yakni :
1) Meningkatkan kemampuan otak
Puasa dapat meningkatkan neurotropik yang diturunkan dari
otak, yang membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel-sel otak, dan pada
akhirnya dapat meningkatkan fungsi otak.
2) Membantu menjaga kesehatan jantung
dan pembuluh darah
Ketika berpuasa, tubuh melakukan peningkatan HDL dan
penurunan LDL yang baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.
3) Mengontrol berat badan
Berpuasa dapat membuat tubuh untuk lebih mudah menurunkan
berat badan.
4) Menyehatkan ginjal
Fungsi ginjal akan maksimal apabila kekuatan osmosis urin
dalam tubuh mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dengan berkurangnya
asupan air pada saat menjalankan ibadah berpuasa, target untuk mencapai
kekuatan osmosis dalam urin dapat tercapai sehingga akan berdampak baik untuk
kesehatan ginjal.
Sedangkan, bagi mereka yang tidak
sanggup puasa penuh maka dapat dengan hanya mengkonsumsi umbi-umbian dan
buah-buahan. Yang dimana memiliki manfaat yang sama baik dari segi rohani serta
dari segi jasmani dapat memperlancar pencernaan karena mengkonsumsi makanan
yang mengandung serat.
4.4 Cara
Mengenalkan Hari Ekadasi Bagi Umat Hindu di Bali
Agar
umat Hindu di Bali dapat melaksanakan hari suci Ekadasi, maka masyarakat dapat
bersembahyang sekaligus belajar kitab suci Weda di beberapa Ashram-ashram Hare
Krshna yang ada di Bali, seperti Sri Sri Krshna Balaram Ashram. Di sana
masyarakat akan diajarkan segala sesuatu mengenai ajaran-ajaran dharma serta
pelaksanaannya menurut Weda. Kemudian dapat juga dengan mensosialisasikan kepada
masyarakat mengenai hari Ekadasi, dengan bantuan tokoh-tokoh keagamaan dan
guru-guru suci maka akan mempermudah proses pengenalan hari suci ini. Selain
itu, kedepannya penulis mengharapkan agar di setiap kalender Bali dapat
ditanggalkan hari suci Ekadasi serta penjelasannya agar masyarakat menjadi
rutin dan taat daam melaksanakan hari suci Ekadasi.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
a.
Puasa Ekadasi
adalah hari kesebelas setelah Purnama dan Tilem dimana pada hari itu umat Hindu
dilarang untuk mengkonsumsi biji-bijian karena terdapat roh-roh jahat (Papa Purusa) pada biji-bijian tersebut.
Penerapan puasa Ekadasi yakni dengan melakukan puasa total, namun bagi yang
tidak kuat dapat dengan hanya mengkonsumsi umbi-umbian dan buah-buahan. Selama
melaksanakan puasa Ekadasi umatnya diharuskan untuk tidak melakukan perkerjaan
berat dan melakukan persembahyangan, berjapa,
dan meditasi agar puasa Ekadasi dapat dilaksanakan dengan lancer.
b.
Melaksanakan
hari Ekadasi sangat bermanfaat bagi tubuh baik itu rohani maupun jasmani.
Dengan melaksanakan hari Ekadasi maka kita akan terhindar dari dosa dan
mendapatkan pahala suci, kemudian tubuh akan menjadi sehat karena mengkonsumsi
makan-makanan yang mengandung serat seperti buah-buahan.
5.2 Saran
a.
Diharapkan agar
umat Hindu di Bali melaksanakan hari Ekadasi mengingat pentingnnya dan manfaat
yang didapat dari pelaksanaan hari Ekadasi.
b.
Diharapkan
kepada pembaca agar dapat berbagi ilmu mengenai hari Ekadasi kepada sanak
saudara serta teman dekat agar terhindar dari dosa.
c.
Diharapkan
kepada pembaca yang tertarik agar dapat melanjutkan karya tulis ini agar
menjadi lebih sempurna apabila terdapat beberapa kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA
Veda
Base Indonesia. 2013. Ekadashi Hari Tuhan
Sri Hari 1#. https://vedabaseindonesia.wordpress.com/2013/08/12/ekadasi-hari-tuhan-sri-hari-1/
Gowinda. 2008.
PUASA EKADASI. http://gowinda.wordpress.com/2008/05/12/puasa-ekadasi/
Ngarayana in
Tradisi. 2009. Puasa Ekadasi. http://narayanasmrti.com/889/puasa-ekadasi/
Raka Jati. 2014.
12 Manfaat Melakukan Puasa. http://ayokesehatan.blogspot.com/2014/07/12-manfaat-puasa-bagi-kesehatan-tubuh.html
Singaraja Gopal.
2012. Munculnya Devi Ekadasi. http://singaraja-gopal.blogspot.com/2012/01/munculnya-devi-ekadasi.html
I Wayan Sudarma.
2011. Kumpulan Artikel Puasa Menurut
Hukum Hindu.
Jayaviira. 1988.
Ekadasi. Singaraja
LAMPIRAN
KUESIONER PELAKSANAAN HARI
EKADASHI
KELOMPOK ILMIAH REMAJA
SMP NEGERI 4 DENPASAR
KELOMPOK ILMIAH REMAJA
SMP NEGERI 4 DENPASAR
Isilah kuesioner dibawah ini menurut pengalaman anda
!
Nama (Asli) :
Umur :
1. Apa yang anda
ketahui mengenai hari Ekadashi ?
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
2. Dari mana anda
mengetahui hari Ekadashi ?
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
3. Sejak kapan anda
melaksanakan hari Ekadashi ?
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
4. Adakah kesulitan
dalam melaksanakan Ekadashi ?
a. Ya
b. Tidak
Berikan alasannya !
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
5. Apakah anda
merasakan manfaat dari pelaksanaan hari Ekadashi ?
a. Ya
b. Tidak
Berikan alasannya !
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
6. Apakah anda
menyarankan agar semua orang melaksanakan hari Ekadashi ?
a. Ya
b. Tidak
Berikan alasannya !
...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Terimakasih atas partisipasinya
Kadek Haripriya Dewi
Daftar
Riwayat Hidup
Penulis
Nama Lengkap : Kadek Haripriya Dewi
Tempat dan Tanggal Lahir : Denpasar, 7 Februari 1999
Alamat :
Jl. Gelogor Indah IA No. 12 Denpasar Selatan
No. Hp/Telp : 085792968850
/ (0361) 499283
Sekolah :
SMPN 4 Denpasar
E-mail :
maregaonbimegamipuriya@yahoo.co.id
Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat :
1. Pemanfaatan Ekstrak Daun Sirih
sebagai Alternatif alami yang Ramah Lingkungan untuk Membasmi Jentik Nyamuk
2. Pemanfaatan Daun Sirih sebagai
Pengusir Semut
3. Penegasan
Sistem Zonasi Dalam Mengatasi Pemukiman Kumuh di Kota Denpasar
4. Dukung
Pelaksanaan Kurikulum 2013 Melalui Pendidikan Jasmani Demi Terciptanya Karakter
Siswa Berbudi Pekerti Luhur
5. Pengaruh
Ekstrak Daun Sirih Sebagai Bahan Alternatif Ramah Lingkungan Untuk Mengusir
Semut Merah
6.
Pemanfaatan Ekstrak Kulit Jeruk Bali Sebagai Alternatif Membasmi Jentik Nyamuk
7.
Mengadaptasi Upaya Masyarakat Peru Dalam Mengatasi Kekurangan Air
Penghargaan yang Pernah Diraih : 1. Juara III LKTI Disdikpora Kota
Denpasar Tahun 2013
2. Juara III LKTI SMAN 1 Kuta Utara
Se-Bali Tahun 2012
3. Juara Harapan
II Essay Universitas Hindu Se-Bali Tahun 2013
4. Juara III
LKTI Pameran Disdikpora Kota Denpasar Tahun 2013
5. Juara
Harapan LKTI SMAN 3 Denpasar Se-Bali
2014
6. Juara II
Essay SMAN 8 Denpasar Se-Bali 2014
Daftar
Riwayat Hidup
Pembimbing
Nama : Ni Luh Arick
Istriyanti
TTL : Sibangkaja,
25 Juni 1991
Alamat : Jalan Raya
Sibangkaja no 17 Br Lambing Sibangkaja, Abiansemal Badung
No. Hp. : 085935029438
E-mail : arick.istriyanti@gmail.com
Karya Tulis yang pernah
di buat :
1. Pengaruh
Ekstrak Daun Mimba Terhadap Daya Tahan Pisang Raja
2. Pengaruh
Ekstrak Daun Duku Untuk Membasmi Semut
3. Menguak
Nilai- Nilai Pendidikan Terhadap Tradisi
Makotek Di Desa Munggu Mengwi Badung
4. Pemanfaatan
Daun Papaya Dalam Membantu Penyembuhan Penyakit Demam Berdarah
5. Sadness
Perspective In “Bali Aga” Local Culture : Indigenous Studies As The Reason Of
Sadness In Tenganan Village Teenagers
6. A
Study Of Indigenous Psychology : Profession Diversity Of Balinese Society
Against Interpersonal Relationship “Menyama Braya”
7. Motivation
Profile Of Working Balinese Woman (Study Of Working Balinese Woman In Formal
Institution)
- Descriptive
Study: Autonomy Of Working Balinese Woman Againts The Patriarchy Culture
9.
Tinjauan
Psikologi Sosial Terhadap Kasus Adat Berupa Sanksi Kasepekang Di Bali
10. Hubungan
Antara Regulasi Diri Dengan Perencanaan Karir Remaja Putri Bali
Komentar
Posting Komentar